Selasa, 28 Oktober 2014

#Pinter REVIEW JURNAL INTERNET ADDICTION




JURNAL 1 :
Kontribusi Kepribadian Introvert Terhadap Kecanduan Internet pada
Mahasiswa

Oleh : Meiyanti Prihati, Anita Zulkaida, SPsi., MSi, Intaglia Harsanti, SPsi., MSi
Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma


Perkembangan teknologi yang sangat pesat semakin memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah teknologi informasi dimana salah satunya adalah internet. Internet digunakan sebagai media untuk memperoleh atau mengakses informasi apapun dengan mudah dan cepat. Keuntungan dari internet antara lain dapat mengakses informasi seperti informasi kesehatan, berita terbaru bahkan mencari literatur, sebagai alat komunikasi, dan mungkin juga untuk mencari hiburan.
Internet tidak hanya memberikan keuntungan, tetapi juga bisa memberikan kerugian bagi penggunanya apabila tidak digunakan secara bijak.  permasalahan dari penggunaan internet yang menjadi sorotan para ahli psikologi adalah mengenai kecanduan internet. Sebagai sebuah topik kajian yang relatif baru, istilah internet addiction memperoleh tanggapan yang serius dari kalangan akademik setelah istilah tersebut dimunculkan oleh Kimberly Young pada tahun 1996 (Young, 1999).
Internet addiction disorder adalah pola penggunaan internet yang maladaptif, yang menimbulkan adanya distress secara klinis yang terwujudkan dalam tiga atau lebih kriteria internet addiction disorder, yang terjadi kapan pun selama 12 bulan yang nsama (Goldberg, 1997).
Salah satu pengguna internet adalah mahasiswa. Mahasiswa lebih rentan untuk menjadi pecandu internet. Kesibukan dan aktivitas yang banyak dari mahasiswa biasanya membuat mahasiswa menjadi tergantung pada internet.
Seseorang yang memiliki kepribadian introvert cenderung akan kecanduan terhadap internet. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian Koch dan Pratarelli (2004) yang menggunakan sampel sebanyak 240 mahasiswa yang terdiri dari 97 laki-laki dan 143 perempuan. Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kepribadian introvert dan ekstrovret. Kepribadian introvert cenderung lebih nyaman berkomunikasi di internet untuk bersosialisasi secara deindividuasi dimana pengguna tersebut mengaburkan identitasnya. Menurut Jung (dalam Chaplin, 2006) seseorang yang introvert cenderung menarik diri dari kontak sosial, minatnya lebih mengarah ke dalam pikiran-pikiran dan pengalaman sendiri. Pribadi introvert menunjukkan libidonya ke dalam dan tenggelam menyendiri ke dalam diri sendiri, khususnya dalam saat-saat mengalami ketegangan dan tekanan batin. Seorang introvert cenderung merasa mampu dalam upayanya mencukupi diri sendiri, sedangkan orang ekstrovert membutuhkan orang lain.
Allport (dalam Hall & Lindzey, 1993) mengemukakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya. Pendekatan tipologis yang saat ini banyak digunakan adalah tipologi introvertekstrovert yang mula-mula dikembangkan oleh Jung (dalam Riyanti dan Prabowo, 1998) yang lalu dilanjutkan oleh Eyesenck (dalam Riyanti dan Prabowo, 1998). Jung mengatakan bahwa kepribadian manusia dapat dibagi menjadi dua kecenderungan ekstrim berdasarkan reaksi individu terhadap pengalamannya yaitu kepribadian ekstrovert dan introvert.
Manusia-manusia yang bertipe introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh faktor-faktor subyektif. (Jung, dalam Sujanto dkk, 2008). Kepribadian introvert memiliki ciri-ciri antara lain pendiam, jiwanya tertutup, mengambil jarak kecuali pada teman dekat, tidak mengikuti impuls yang muncul pada situasi tertentu, mudah tersinggung, pesimistik, pasif, teliti, kurang suka pada lelucon terlebih lelucon mengenai seks, cenderung untuk tetap pada pendirian (keras kepala), rendah hati, sukar tidur, senang introspektif, berencana jauh ke depan, serius, menyukai hidup yang teratur, jarang bersikap agresif, dapat diandalkan, agak kaku, penyesuaiannya dengan dunia luar kurang baik, sukar bergaul, kurang dapat menarik hati orang lain, apati, mudah gagap, mudah melamun perbendaharaan kata-kata baik, tidak menyukai kegembiraan, dan menarik diri.
Goldberg (1997) menyebut kecanduan internet dengan internet addiction disorder yaitu pola penggunaan internet yang maladaptif, yang menghasilkan pengerusakan atau distress secara klinis yang terwujudkan dalam tiga atau lebih kriteria internet addiction disorder, yang terjadi kapanpun selama 12 bulan yang sama. Kriteria diagnostik kecanduan internet dari Young (1996; 1999) yang terdiri dari merasa keasyikan dengan internet, perlu waktu tambahan dalam mencapai kepuasan sewaktu sewaktu menggunakan internet, tidak mampu mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet, merasa gelisah, murung, depresi, atau lekas marah ketika berusaha mengurangi atau menghentikan penggunaan internet, mengakses internet lebih lama dari yang diharapkan, kehilangan orang-orang terdekat, pekerjaan, kesempatan pendidikan, atau karir gara-gara penggunaan internet, membohongi keluarga, terapis, atau orang-orang terdekat untuk menyembunyikan keterlibatan lebih jauh dengan internet, dan menggunakan internet sebagai jalan keluar mengatasi masalah atau menghilangkan perasaan seperti keadaan tidak berdaya, rasa bersalah, kegelisahan, atau depresi.
Secara umum mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya dalam ikatannya dengan perguruan tinggi (Sarwono, 2002). Di Indonesia, secara umum mahasiswa berusia sekitar umur 18- 21 tahun. Berdasatkan usia tersebut, mahasiswa dapat dikategorikan sebagai remaja akhir.
Data diperoleh melalui kuesioner yang di sebar dengan menggunakan metode try out terpakai pada mahasiswa Universitas Gunadarma. Pada penelitian ini didapat 73 kuesioner untuk dianalisis. Skala yang digunakan untuk mengukur skala kepribadian introvert berbentuk skala Osgood dan skala kecanduan internet berbentuk skala Likert.  Berdasarkan analisa data yang dilakukan dengan menggunakan regresi sederhana diperoleh F sebesar 12,764 dengan signifikansi sebesar 0,001 (p<0>
Hal ini berarti tidak terdapat kontribusi yang signifikan dari kepribadian introvert terhadap kecanduan internet, kontribusi yang diperoleh hanya 15,2 %. Dengan demikian hipotesis yang berbunyi kepribadian introvert memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kecanduan internet pada mahasiswa, diterima.
 
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi yang signifikan dari kepribadian introvert terhadap kecanduan internet pada mahasiswa. Lebih lanjut dari hasil penelitian diketahui bahwa kontribusi yang diberikan kepribadian introvert terhadap kecanduan internet sebesar 15,2 %. Faktor lain yang mendukung mahasiswa kecanduan internet seperti usia, jenis kelamin, fakultas, tempat tinggal, uang saku perbulan, rata-rata pengeluaran untuk penggunaan internet dalam sebulan, frekuensi mengakses internet, dan rata-rata waktu online dalam sehari.
Dari hasil peneltian, dapat diketahui bahwa usia yang memiliki kepribadian introvert tertinggi yaitu partisipan dengan usia 18-19 tahun, sedangkan yang memiliki kecanduan internet tertinggi yaitu partisipan dengan usia 22 tahun. Jenis kelamin yang memiliki kepribadian introvert tertinggi adalah partisipan wanita, sedangkan yang memiliki kecanduan internet tertinggi adalah partisipan pria. Untuk fakultas yang memiliki kepribadian introvert dan kecanduan internet paling tinggi adalah partisipan yang berasal dari fakultas ekonomi. Sedangkan pada kategori tempat tinggal, partisipan yang tinggal bersama orang tua memiliki kepribadian introvert paling tinggi dan yang memiliki kecanduan internet tertinggi adalah partisipan yang tinggal di tempat kost.

REFERENSI:


JURNAL 2 :
PERILAKU ADIKSI GAME-ONLINE DITINJAU DARI EFIKASI DIRI
AKADEMIK DAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA
REMAJA DI SURAKARTA
Pradipta Christy Pratiwi, Tri Rejeki Andayani, Nugraha Arif Karyanta
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret


Perkembangan teknologi berupa internet memberikan manfaat yang sangat besar bagi kemajuan di segala bidang kehidupan. Hari ke hari internet menyuguhkan banyak penawaran yang menarik, alih-alih menggunakan internet untuk menyelesaikan tugas sekolah atau pekerjaan, kenyataannya banyak yang beralih pada game-online.
Fenomena perilaku adiksi game-online di Kota Surakarta yang menunjukkan dampak negatif, pencurian oleh empat orang remaja yang nekat mencuri handphone di Boss Seluler, Karangasem, Laweyan, Surakarta karena kecanduan game-online Point Blank. (Wiratno, dalam Joglosemar, 2011). Koordinator Yayasan Sahabat Kapas, Dian Sasmita (Primartantyo, dalam Tempo.Co., 2012) menyatakan bahwa dalam enam bulan pertama di tahun 2012 terdapat tujuh orang remaja yang melakukan pencurian demi bisa bermain game-online. Soetjipto (2007) menyebutkan bahwa adiksi adalah suatu gangguan yang sifatnya kumatkumatan atau kronis, ditandai dengan perbuatan kompulsif yang dilakukan seseorang secara berulang-ulang untuk mendapatkan kepuasan pada aktivitas tertentu. Istilah adiksi juga digunakan untuk menyebut ketergantungan pada permasalahan sosial seperti judi, kompulsif makan, adiksi shopping, bahkan internet khususnya game-online.
Game-online semakin popular dan menarik bagi banyak kalangan dari hari ke hari. Kemenarikan game-online tidak hanya berlaku sesaat tetapi menimbulkan perilaku yang kompulsif bagi penikmatnya. Tingkah laku ini menimbulkan istilah adiksi atau kecanduan. Adiksi adalah suatu gangguan yang bersifat kronis dan kompulsif berulang-ulang untuk memuaskan diri pada aktivitas tertentu (Soetjipto, 2007). Freeman (2008) yang menyampaikan bahwa game-online merupakan permainan yang dimainkan melalui koneksi internet.
Kecanduan game-online menjadi aktivitas yang paling adiktif di internet. Perilaku adiksi gameonline adalah perilaku yang bersifat kronis dan kompulsif untuk memuaskan diri pada permainan yang dimainkan dengan koneksi internet hingga menimbulkan masalah dalam hidup sehari-hari. Permasalahan yang timbul sifatnya merugikan diri sendiri, meskipun demikian tidak membuat individu berusaha untuk menghentikan atau mengurangi aktivitasnya bermain game-online karena individu merasa sulit untuk keluar atau berhenti memainkan game-online.
Berdasarkan Teori Belajar Sosial milik Bandura, dapat dikemukakan bahwa efikasi diri yang rendah akan menimbulkan resiko mengalami adiksi (Amstrong, Philips & Sailing, 2000). Wan & Chiou (2006) yang meneliti remaja Taiwan yang kecanduan game-online menemukan bahwa individu sangat mudah mengalami kecanduan game-online karena mengalami permasalahan dengan efikasi diri dan kesulitan mengontrol diri. Individu yang memiliki efikasi diri akademik yang rendah akan sedikit menghabiskan waktunya pada aktivitas akademik sehingga untuk mencapai kepuasan prestasi, mereka akan menghabiskan waktunya pada aktivitas adiksi sebagai pengalihan ketidakmampuannya dalam bidang akademis, yang sekarang sedang populer dan digemari remaja adalah bermain game-online.
Populasi penelitian ini adalah remaja di Kota Surakarta yang memiliki karakteristik yaitu usia 13-18 tahun (masih duduk di bangku SMP sampai dengan SMA) dan mengalami kecanduan game-online (Young, 2004). Subjek penelitian ini sejumlah 76 remaja yang secara kebetulan di lima game center yang terletak Surakarta. Sampling yang digunakan adalah purposive incidental samping. Instrumen penelitian ini menggunakan Game-online Addiction Test yang mengacu pada Internet Addiction Test (Young, 1998) dengan 17 aitem valid dan reliabilitas 0,802. Skala Efikasi Diri Akademik menggunakan modifikasi dan adaptasi dari College Academic Self Efficacy Scale (Froman & Owen, 1988) dengan 29 aitem valid dan reliabilitas 0,828. Skala Keterampilan Sosial dengan 23 aitem valid dan reliabilitas 0,813.      
Perhitungan dengan analisis regresi berganda menghasilkan nilai Fhit 10,412 > Ftab 3,114 dan p = 0,000 (p < 0,05) serta R 0,471. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa ada hubungan antara efikasi diri akademik dan keterampilan sosial dengan perilaku adiksi game-online. Arah hubungan kedua variabel prediktor dengan variabel kriterium adalah negatif, dengan nilai rpar x1y = -0,363 (p = 0,001; p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara efikasi diri akademik dengan perilaku adiksi game-online. Nilai rpar x2y = -0,289 (p = 0,012; p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara keterampilan sosial dengan perilaku adiksi game-online. Nilai R square 0,222 berarti efikasi diri akademik dan keterampilan sosial secara bersama-sama memberikan kontribusi 22,2% pada perilaku adiksi game-online. Kontribusi efikasi diri akademik sebanyak 13,5% dan keterampilan sosial 8,7% untuk variabel perilaku adiksi gameonline.
Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa efikasi diri akademik yang dimiliki subjek penelitian yang rata-rata tergolong tinggi mampu mengurangi keterlibatan seseorang terhadap perilaku adiksi game-online. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Adiksi Game-online  adalah kontrol diri, motivasi dan kebutuhan psikologis seperti keinginan berkuasa, keinginan berprestasi, kesepian. Frekuensi bermain gameonline juga menjadi penyebab seseorang semakin terikat dan menjadi pecandu.

REFERENSI :
http:// candrajiwa.psikologi.fk.uns.ac.id/index.php/

JURNAL 3 :

HUBUNGAN KECANDUAN CHATTING DENGAN
PROKRASTINASI AKADEMIK
Annisa Zulaicha & Inhastuti Sugiasih

Globalisasi membawa banyak perubahan pesat antara lain kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat Inodensia perlu menhadapi dan menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia. Salah satunya dengan perhatian lebih pada pendidikan dan sumber daya manusia itu sendiri. Masyarakat Indonesia di harapkan mamapu mengikuti kecepatan globalisasi tersebut dengan kesungguhan belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang optimal untuk tercapainya suatu perubahan yang lebih maju.
Proses pendidikan dianggap baik jika mampu memberi sumbangan terhadap pengembangan manusia seutuhnya. Tujuan pendidikan terkadang tidak sesuai dengan harapan. Salah satu penyebabnya adalah sikap mental pelajar yang kurang disiplin dalam belajar. Kurangnya kesadaran siswa untuk belajar dipengaruhi oleh adanya kecenderungan untuk berusaha mencapai kesenangan dan menghindari perasaan yang tidak menyenangkan. Hal-hal yang dianggap menyenangkan bagi seorang pelajar biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas yang bersifat hiburan seperti: berjalan-jalan, menonton televise, makan dan mengobrol di kafe ataupun rumah makan bersama teman-teman sebayanya, membaca komik, novel atau majalah, pergi ke bioskop, chatting, dan lain sebagainya. Perilaku seperti inilah yang sering membuat para pelajar cenderung melupakan tugas-tugas akademik, sehingga menunda samapai batas waktunya, dan mengerjakannya sampai pada saat beberapa jam bahkan beberapa menit sebelum deadline (Rizvi, 1997).
Perilaku menunda-nunda pekerjaan dalam ilmu psikologi disebut sabagai prokrastinasi yang diambil dari bahasa inggris procrastination. Secara harafiah berasal dari kata “procrastinare” dalam bahasa latin yang berarti menunda sampai hari berikutnya. Seseorang tidak dapat digolongkan sebagai penunda jika hanya melakukan sesekali saja, terutama bila pekerjaan yang dilakukan tidak menyenangkan.
Pelajar sama halnya dengan orang lain juga merupakan mahkluk social yang butuh berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut David McClelland, manusia mempunyai tiga kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berkuasa, dan kebutuhan berafiliasi atau berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya. Salah satu cara untuk bergaul atau berafiliasi dengan orang lain adalah dengan menggunakan media internet salah satunya chatting.
Chatting mempunyai dampak positif maupun negative. Dampak positifnya adalah manusia dapat melakukan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu, sedangkan dampak negative dari chatting adalah membuat orang mengalami “kecanduan”. Kecanduan chatting terjadi apabila para pelaku tidak dapat menghentikan dan mengontrol chatting yang dilakukannya sehingga mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Kecanduan chatting ini dapat memunculkan perilaku-perilaku bekerja, kurangnya perhatian keluarga, kurangnya sosialisasi di dunia nyata, terjadinya pergaulan bebas tanpa batas yang menjurus ke pornografi, dan muncul adanya gangguan kesehatan seperti sakit pinggang, nyeri sendi, kelelahan yang berlebihan, serta sulit konsentrasi karena berlama-lama duduk di depan computer.
Kecanduan chatting ini juga dialami oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa banyak menghabiskan waktunya untuk chatting ketimbang mengerjakan tugas-tugas akademiknya. Peilaku menunda-nunda suatu pekerjaan dikenal dengan istilah prokrastinasi. Secara harafiah, prokrastinasi berasal dari bahasa latin “procrastinare”, dengan awalan “pro” yang berarti kepunyaan hari esok atau jika diganubung artinya menjadi “menunda sampai hari berikutnya”. Brown dan Holtzman (Rizvi, 1997) berpendapat bahwa prokrastinasi sebagai suatu kegagalan untuk memulai atau menyelesaikan suatu tugas dalam waktu tertentu. Berbeda dengan Silve (Rizvi dkk, 1997) yang berpendapat prokrastinasi lebih besar dari sekedar kecenderungan, melainkan suatu respon mengantisipasi tugas-tugas yang tidak disukai, atau karena tidak memadainya penguatan atau keyakinan yang tidak rasional yang menghambat kinerja.
Kecanduan chatting adalah situasi dimana seseorang melakukan chatting sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa tanda kecanduan internet menurut Young (1999) adalah: (a) pengguna internet mangalami perasaan tidak menyenangkan ketika offline, (b) ketidakmampuan mengatur penggunaan internet, (c) berani mengambil resiko “kehilangan” karena internet dan (d) menggunakan internet sebagai cara melarikan diri dari masalah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat korelasi positif anatara kecanduan chatting di internet dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Makin tinggi kecanduan chatting, maka makin tinggi pula prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Sebaliknya, makin rendah kecanduan chatting, maka makin rendah pula prokrastinasi akademik mahasiswa.
Metode Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa mig33 yang aktif melakukan chatting minimal 6 bulan di Salatiga dan Yogyakarta. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala untuk mengukur kecanduan chatting dan skala untuk mengukur prokrastinasi akademik. Metode analisa data pada penelitian ini menggunakan temnik korelasi Product Moment dari Karl Perason (Azwar, 1998).
Hasil
Sebelum dilakukan uji hipotesis maka perlu dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas dan uji linearitas dengan hasil sebagai berikut:
Uji linieritas antara skala kecanduan chatting terhadap prokratinasi akademik diperoleh Flinier = 64,088 dengan p = 0,000 (p, 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa distribusi skala kecanduan chatting terhadap prokrastinasi akademik adalah linier atau kedua variabel membentuk garis lurus. Hasil uji korelasi antara kecanduan chatting dan prokrastinasi akademik mahasiswa diperoleh rxy = 0,725 dengan p = 0,000 (p,0,01) dan koefisien determinasi R2 = 0,525. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara kecanduan chatting dengan prokrastinasi akademik yang berarti hipotesis diterima. Sumbangan efektif yang diberikan variable kecanduan chatting terhadap prokrastinasi akademik sebesar 52,5%.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan peneliti, menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat significant antara kecanduan chatting dengan prokrastinasi akademik mahasiswa. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Young (1999) bahwa penggunaan internet secara berlebihan dapat menimbulkan seoran pelajar mengalami masalah akademik.
Sumber :

JURNAL 4 :
KEBUTUHAN BERAFILIASI, INTROVERSI KEPRIBADIAN SERTA KETERGANTUNGAN PADA FACEBOOK PADA MAHASISWA
Tri Nurmala Dewi dan Joko Kuncoro

Perkembangan IPTEK yang begitu pesat, membawa perubahan gaya hidup dalam membina hubungan akrab dengan orang lain. Jejaring sosial sebagai salah satu sarana komunikasi dalam bentuk maya, berhubungan atau menjalin komunikasi secara verbal melalui seperangkat computer atau sejenisnya yang dihibungkan melalui suatu jaringan telekomunikasi. Diantara situs-situs jejaring sosial penggunaan facebook di Indonesia mengalami peningkatan setiap bulannya.
Akeselari pengguna facebook menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki keterkaitan yang lebih dalam bersosialisasi dengan orang lain. Facebook yang digunakan secara tepat, banyak manfaat yang akan diperoleh seperti sebagai media berkomunikasi, sarana promosi dalam dunia bisnis dan industri serta berbagai informasi seputar pendidikan, diskusi ataupun informasi actual lainnya akan tetapi intensitas penggunaan facebook yang tidak wajar yang kemudian menjadikan makna facebook mulai bergeser (Arani, 2010).
Dampak negative dari penggunaan facebook yang berlebihan dari sisi kesehatan akan terganggu karena memicu orang mengisolasi diri. Kerusakan fisik yakni seseorang dapat mengalami cedera tekanan yang berulang-ulang akibat memencet keypas atau mouse berjam-jam setiap hari. Seseorang akan mengalami pengurangan interaksi dengan sesame mereka dalam jumlah menit per hari-nya sehingga menyebabkan jumlah orang yang tidak dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi semakin meningkat setiap hari (Sitis, 2010).
Berkurangnya waktu belajar, tersebarnya data pribadi, mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex, rawan terjadinya perselisihan dan penipuan. Munculnya masalah dalam keluarga, masalah akademik, dan masalah pada pekerjaan (Young, 1996). 
Baran & David (2010) mengungkapkan teori ketergantungan (media) berasumsi bahwa makin seseorang menggantungkan kebutuhannya untuk dipenuhi oleh penggunaan media, makin penting peran media dalam hidup orang tersebut sehingga media akan makin memiliki pengaruh kepada orang tersebut.
Young (1996) menyebutkan tanda-tanda orang kecanduan (ketergantungan) internet sebagai berikut: a) pengguna internet mengalami perasaan tidak menyenangkan, 2) ketidakmamupuan mengatur penggunaan internet, tidak dapat mengontrol, mengurangi atau menghentikan penggunaan facebook, c)berani mengambil resiko kehilangan karena internet, d) menggunakan internet sebagai cara melarikan diri dari masalah, menghilangkan dysphoric mood (perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, cemas, depresi) dengan membuka situs facebook serta menulis comment di facebook sesuai dengan perasaan harinya saat itu.
Yanuar (Dyah, 2009) menyatakan bahwa secara umum ada dua factor yang mempengaruhi ketergantungan facebook, yaitu factor ekstern dan intern. Faktor intern merupakan factor yang berasal dari dalam diri individu seperti control diri, minat, motif, kepribadian, pengetahuan, dan usia. Kebutuhan berafiliasi dan kepribadian menjadi dua dari beberapa factor yang mempengaruhi ketergantungan facebook.
Murray (Hall & Lindzey, 2004) mendefinisikan kebutuhan afiliasi adalah mendekati diri, bekerjasama atau membalas ajakan orang lain yang bersekutu (orang lain yang menyerupai atau menyukai subjek), membuat senang dan mencari afeksi dari objek yang disukai, patuh dan tetap setia kepada seorang kawan. Menyatakan aspek-aspek kebutuhan berafiliasi yakni: a) simpati yaitu rasa saling mengerti dan menghormati akan keadaan dan keberadaan orang lain, b) empati yaitu perasaan mendalam terhadap apa yang dialami orang lain, c) kepercayaan yaitu adanya kesanggupan pada diri seseorang untuk mempercayai orang lain dalam berhubungan, d) menyenangkan orang lain yaitu keinginan untuk menyenangkan orang lain.
Metode
Subjek penelitian adalah mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang masih aktif mengikuti perkuliahan yaitu angkatan 2007 hingga 2010, yang berusia tidak lebih dari 24 tahun. Penerapan sampling pada penelitian ini dengan cara proportional sampling yaitu sampel yang terdiri dari sub-sub sampel yang perimbangannya mengikuti peimbang sub popolasi. Sampel diambil 3% pada setiap fakultas berdasarkan data jumlah mahasiswa dari Puskom UNISSULA. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 167 mahasiswa.
Data ketergantungan terhadap facebook diukur dengan menggunakan skala yang disusun berdasar karakteristik dari Young dan skala afiliasi dari Murray untuk mengukur kebutuhan afiliasi. Data introversi kepribadian diukur dengan skala introversi kepribadian dari Jung. Ada tiga hipotesis yang akan diuji. pertama adalah ada keterkaitan antara kebutuhan afiliasi dan introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap facebook. Kedua adalah ada hubungan positif antara kebutuhan afiliasi dengan ketergantungan terhadap facebook dan ketiga adalah ada hubungan positif antara introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap facebook. Aanalisis data dilakukan dengan teknik statistic regresi ganda.
Hasil analisis menunjukkan besarnya Koefisien regresi ganda R=0.278, F=6.863 dan p=0.001 (p<0 .01=".01" 0.015="0.015" ada="ada" afiliasi="afiliasi" antara="antara" berarti="berarti" dan="dan" dengan="dengan" diterima.="diterima." ditolak="ditolak" facebook.="facebook." hipotesis="hipotesis" hubungan="hubungan" introversi="introversi" kebutuhan="kebutuhan" kedua="kedua" kepribadian="kepribadian" ketergantungan="ketergantungan" ketiga="ketiga" menunjukkan="menunjukkan" p-="p-" p="p" ry1="-0.163" ry2="0.189" sedangkan="sedangkan" signifikan="signifikan" span="span" terhadap="terhadap" uji="uji" yang="yang">



JURNAL 5 :
PSYCHOLOGY OF COMPUTER USE: XL. ADDICTIVE USE OF THE INTERNET: A CASE THAT BREAKS THE STEREOTYPE
Kimberly Young
University of Pittsburgh at Bradford
Psychological Reports, 1996
Kasus ni membahas tentang ibu rumah tangga usia 43 tahun yang kecanduan menggunakan internet. Kasus ini dipilih karena menunjukan bahwa wanita yang berorientasi non teknologi, dengan laporan yang berisi tentang kehidupan rumah tangganya dan tidak ada kecanduan apapun sebelumnya atau riwayat penyakit jiwa, menyalahgunakan penggunaan internet yang mengakibatkan perusakan yang signifikan pada kehidupan keluarganya. Jurnal ini mendefinisikan tentang kecanduan penggunaan internet, menguraikan kemajuan subjek yang kecanduan online, dan mendiskusikan implikasi dari beberapa perilaku kecanduan pada pasar baru pelanggan internet.

Perhatian media pada subjek yang kecanduan internet memiliki stereotip mengenai pecandu yang dominan, yaitu anak muda, berkepribadian introvert, dan laki-laki yang berorientasi pada komputer. Kemudian, penelitian sebelumnya mengindikasikan laki-laki introvert yang berorientasi pada objek menjadi pecandu komputer yang utama.

Kecanduan, dalam DSM-IV jarang muncul, namun ada tujuh kriteria yang mendasari diagnosis ini, antara lain: penarikan diri, toleransi, kesenangan akan substansi, frekuensi penggunaan substansi lebih dari yang diharapkan, pemusatan aktivitas untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari substansi, kurangnya ketertarikan pada kegiatan sosial, pekerjaan, dan aktivitas rekreasi lainnya, dan ketidakperdulian pada konsekuensi fisik atau psikologis yang dikarenakan penggunaan substansi.

Subjek ini dilaporkan, walaupun dia phobia dan tidak mengerti komputer, namun dia tetap dapat mengoprasikan dengan mudah sistem online dari komputer rumahnya, karena aplikasi menu-driven disediakan oleh servis onlinenya. Pelayanan online ini hanya aplikasi untuk komputer yang dia gunakan saja, dan dia awalnya menghabiskan beberapa jam perminggu mengamati beberapa social chat rooms. Dalam waktu 3 bulan, dia sudah membutuhkan sepanjang waktu untuk online, kira-kira 50-60 jam per minggu untuk online. Dia menjelaskan bahwa sekali dia menentukan bagian dari chat room dimana dia merasa cocok dengan partisipan online lainnya, dia akan tetap online lebih lama dari yang dia harapkan. Biasanya, dia logged on di pagi hari, secara konstan mengecek emailnya sepanjang hari, dan dia berdiam diri sampai larut malam menggunakan internet, kadang sampai subuh.

Dia sering merasa depresi, cemas, dan lekas marah apabila dia tidak di dekat komputernya. Dalam usahanya untuk menghindari apa yang dia maksud sebagai penarikan dari internet, dia menyibukan diri dalam aktivitas untuk tetap online selama yang dia bisa. Subjek membatalkan janji, berhenti berhubungan dengan teman-temannya, mengurangi keterlibatan degan keluarganya, dan keluar dari aktivitas sosial yang pernah dia nikmati. Kemudian dia berhenti melakukan tugas rutinnya, seperti memasak, bersih-bersih, dan belanja, yang membuat dia menjauh dari online.

Subjek tidak melihat pikiran kompulsifnya terhadap penggunaan internet ini sebagai masalah, bagaimanapun, masalah keluarga yang signifikan diakibatkan karena dia berlebihan dalam ber internet. Khususnya, 2 anak perempuan remajanya merasa diabaikan oleh ibunya, karena dia selalu duduk di depan komputernya. Suaminya selama 17 tahun mengeluhkan tentang biaya finansial dari biaya servis online yang dia bayar (sampai 400.000 dolar per bulan) dan tentang istrinya yang kehilangan ketertarikan akan pernikahannya. 

Meskipun adanya konsekuensi yang negatif, subjek menyangkal kalau perilakunya ini abnormal, tidak ada keinginan untuk mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan untuk online dan mencoba untuk menjalani tritmen, walaupun sudah berulang kali diminta oleh suaminya. Dia merasa masih wajar dalam menggunakan internet, menyangkal kalau siapa pun dapat menjadi kecanduan akan ini, merasa keluarganya menjadi tidak masuk akan dan menemukan perasaan tertarik yang tidak biasa akan dorongan online yang membuuatnya tidak ingin menyerah.

Kasus ini memberi kesan bahwa beberapa faktor resiko mungkin dapat diasosiasikan dengan perkembangan kecanduan penggunaan internet. Pertama, tipe aplikasi dimanfaatkan oleh pengguna online yang mungkin diasosiasikan dengan perkembangan penyalahgunaan internet. Subjek dalam kasus ini menjadi pecandu chat room yang konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan aplikasi interaktif tertinggi yang ada di internet menjadi yang paling banyak digunakan oleh pelanggan.  Penelitian mengatakan, sebenarnya, internet sendiri tidak membuat kecanduan, tapi mungkin aplikasi spesifik memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan penyalahgunaan internet.
Kesimpulannya, dalam penelitian kali ini, terlihat bahwa selain memiliki manfaat, penggunaan komputer juga dapat berdampak buruk bagi kehidupan manusia jika penggunaannya diluar batas. Selain berdampak pada fisiknya, penggunaan komputer yang berlebihan dapat merusak keadaan psikologi manusia, yang menyebabkan gangguan dan masalah-masalah pendukung lainnya.
SUMBER : - http://198.64.250.26/articles/stereotype

0 komentar: