Selasa, 28 Oktober 2014

#Pinter Review Jurnal Psikoterapi Via Internet



 
JURNAL 1 :
PENERAPAN KONSELING KELOMPOK DENGAN STRATEGI SELF-MANAGEMENT UNTUK MENGURANGI KEBIASAAN BERMAIN VIDEO GAMES
Oleh : Wijayanti dan Muhari

Globalisasi dan modernisasi dalam bidang teknologi dan komunikasi semakin memudahkan arus informasi dan komunikasi. Hal itu menimbulkan perubahan pada bentuk nilai-nilai kehidupan secara bebas. Perubahan bentuk pada nilai-nilai kehidupan ini tidak bisa dihindari lagi, karena merupakan muatan global dari informasi dan komunikasi itu sendiri. Demam video games marak ditemukan pada kelompok anak pra-remaja dan remaja diberbagai belahan dunia. Sejumlah penelitian pada anak menunjukkan permainan game interaktif dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan tingkat pernafasan. Sistem syaraf juga lebih terangsang. Tes kognitif yang dilakukan pra dan pasca game computer juga menunjukkan penurunan kemampuan daya ingat. Hal itu menunjukkan bahwa bermain game atau menonton film berdampak besar terhadap proses belajar, termasuk terhadap kemampuan mengingat hal-hal yangt baru saja terjadi. Jika game sampai mengendalikan perilaku dan kehidupan sahari-hari seseorang, maka dapat dikatakan bahwa penggunaan video game berdampak negatif.
Dalam penelitian ini menggunakan layanan konseling kelompok. Konseling kelompok ini dapat dikombinasikan dengan menggunakan strategi konseling yaitu self-management. Self-management adalah suatu proses dimana klien mengarahkan perubahan tingkah laku mereka sendiri, dengan menggunakan satu strategi atau kombinasi strategi. Strategi self-management terdiri dari self-monitoring adalah upaya klien untuk mengamati diri sendiri, mencatat sendiri tingkah laku tertentu tentang dirinya dan interaksi dengan peristiwa lingkungan. Stimulus control adalah rangsangan sebelumnya antecedent atau isyarat pedoman/petunjuk untuk menambah atau mengurangi tingkah laku. Self-reward adalah pemberian hadiah pada diri sendiri, setelah tercapainya tujuan yang diinginkan. Lebih lanjut dikatakan bahwa permasalahan yang dapat diatasi dengan menggunakan strategi self-management antara lain: (1) control berat badan (2) latihan ketrampilan hubungan interpersonal (3) kecemasan (4) kecanduan (5) depresi (6) imsomnia (7) prestasi belajar.
Bermain Video Games
1.      Pengertian Video Games
Dunia video games bukan hanya besar, melainkan juga beragam. Ada game ding-dong: mesin-mesin yang menggunkan kion, umumnya satu game per mesin. Ada juga game computer, yang dimainkan di computer pribadi (PC). Ada juga game genggam, baik yang khusus (seperti perangkat permainan memancing ikan) maupun yang mampu memainkan banyak game berbeda (seperti Nintendo GameBoy). Dan ada game digital seperti Sony Play Station, yang berjalan pada konsol dan menampilkan gambarnya di TV kita. Perbedaan-perbedaan ini tidak hanya meliputi bentuk perangkat, namun juga melebar hingga karakteristik game yang dimainkan dan cara pengguna memainkan.
2.      Dampak Positif dan Negatif Permainan Video Games
a.       Dampak Positif: dapat memberi rasa rileks dan mengendorkan urat syaraf dari kebiasaan rutin atau lelah bekerja, melatih kemampuan pemain untuk konsentrasi dan memusatkan perhatian, melatih memecahkan masalah dengan analisa kemampuan untuk mengatur sistematis kerja untuk mencapai tujuan, mengembangkan kecepatan reaksi dan persepsi audio visual, tidak membuat orang gampang putus asa, dan melatih mengembangkan kesabaran dan ketekunan.
b.      Dampak Negatif: dampak negative permainan video games, antara lain: membuat pemainnya lupa waktu, lupa belajar, lupa tugas dan tanggung jawab, membuat pemainnya tidak produktif, karena waktunya habis untuk bermain video games, meningkatkan agresifitas pemainnya, karena pengaruh aksi-aksi kekerasan yang terbiasa disaksikan, menyebabkan anti social, karena keranjingan main video games, dan menyebabkan ketegangan emosional antara orang tua dan anak yang kecanduan main video games.
3.      Sebab dan Pengaruh Video Games bagi Individu
Menurut Henry (2010), apa dan bagaimana game bertindak dan berpengaruh terhadap perilaku anak.
a.       Imajinasi: Game memberikan imajinasi kepada anak.
b.      Interaktifitas: Game memberikan interaktif yang baik kepada pemainnya.
c.       Kebebasan: Dengan bermain game, si anak bisa belajar dengan nyaman dari kesalahan yang dibuatnya.
d.      Pengulangan: Game interaktif dengan mudah memberikan proses pengulangan yang menantang anak untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukannya.  
Permasalahn kebiasaan bermain video games disebabkan karena control diri yang kurang terhadap tingkah laku individu. Keterangan tersebut sejalan dengan pengertian strategi self-management yaitu berfokus pada perubahan tingkah laku, memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.
Konseling Kelompok dengan Strategi Sels-Management
1.      Pengertian Konseling Kelompok
Menurut pendapat Shertzerdan Stone bahwa konseling kelompok merupakan suatu proses dimana seorang konselor terlibat didalam suatu hubungan dengan sejumlah konseli pada waktu yang sama yang bertujuan untuk membantu siswa dalam memecahkan suatu masalah.
2.      Pelaksanaan dan Tahapan dalam Konseling Kelompok
Tahap-tahap Konseling Kelompok:
a.       Tahap I: Pembentukan
Anggota kelompok hendaknya mengetahui tujuan dibentuknya kelompok. Tema yang diambil adalah pengenalan, perlibatan diri dan pemasukan diri.
b.      Tahap II: Peralihan
Untuk meninjau pemahaman anggota kelompok terhadap apa yang akan dilaksanakannya seperti masih ragu-ragu untuk mengikuti layanan konseling kelompok. Lihat suasana dan situasi anggota kelompok. Tema yang diambil adalah pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga.
c.       Tahap III: Kegiatan
Pelaksanaan inti kegiatan dari konseling kelompok
d.      Tahap IV: Pengakhiran
Mengecek apa yang telah dicapai anggota kelompok (evaluasi). Penyampaian kesan dan pesan serta penyampaian kapan akan dilaksanakan layanan konseling kelompok kembali.
3.      Pengertian Strategi Self-Management
Self-management adalah strategi yang memberikan kesempatan pada klien untuk mengatur atau memantau perilakunya sendiri dengan ssatu strategi atau kombinasi strategi untuk mengubah perilaku.
METODE
Jenis penelitian ini adalah pre eksperiment dengan jenis pre-test dan post-test one group design, sedangkan subjek penelitiannya adalah 6 siswa yang memiliki tingkat kebiasaan bermain video games tinggi di kelas VIII-E SMP Negeri 1 Ngadirojo-Pacitan. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang siswa yang memiliki kebiasaan bermain video games tinggi adalah dari angket yang dikembangkan sendiri. Penerapan konseling kelompok dengan strategi self-management dilakukan 8 kali pertemuan dengan menggunkan tahapan dalam konseling kelompok yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan yang di dalamnya diterapkan langkah-langkah stategi self-management dan tahap pengakhiran. Data dianalisis dengan menggunakan teknik statistik non parametrik dengan menggunakan Uji Tanda.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang seswa yang memiliki kebiasaan bermain video games tinggi adalah dari angket yang dikembangkan sendiri. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Tanda. Hasil analisis Uji Tanda menunjukkan bahwa nomor urut yang bertanda negative sejumlah 6 sedangkan yang bertanda positif sejumlah 0, sehingga terdapat perbedaan skor antara pre-test dan post-test. Berdasarkan table probabilitas binominal untuk p=0,5 , N=6, r=0 diketahui Ptabel = 0,016 dengan α=0,05. Sehingga diperoleh α > peluang smpel yaitu (0,05>0,016) berarti H0 ditolak dan Ha diterima, maka disimpulkan bahwa ada penurunan kebiasaan bermain video games antara sebelum dan sesudah penerapan konseling kelompok dengan strategi self-management pada siswa kelas VIII-E di SMP Negeri I Ngadirojo Pacitan. Rata-rata penurunan frekuensi bermain video games siswa setelah penerapan konseling kelompok dengan strategi self-management selama 3 minggu adalah 5x bermain dengan rata-rata penurunan durasi bermainnya 1 jam per permainan. 
Sumber:


JURNAL 2 :
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU PEMBIMBING MENYUSUN RPBK DAN PENERAPANNYA DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA KORAN DAN TIK MELALUI DISKUSI TEMAN SEPROFESI
Yuddo Suswanto

Banyak media layanan yang dapat dimanfaatkan oleh guru pembimbing dalam upaya memberikan bantuan kepada konseli. Mulai dari media yang bersifat konvensional sampai pada yang canggih. Mulai dari yang ada disekitar guru pembimbing dan konseli sampai pada tingkat yang lebih luas. Persoalannya adalah mau atau mampukah para guru pembimbing memanfaatkan media tersebut pada proses layanan bimbingan dan konseling.
Peningkatan guru pembimbing dalam mengemban profesinya sangat diharapkan bisa melakukan pengembangan profesi khususnya dalam pemanfaatan media layanan bimbingan dan konseling. Hal ini dilakukan agar dapat lebih mengefektifkan pemberian bantuan layanan kepada konseli. sehingga konseli di harapkan dapat lebih mudah menyerap pesan yang diberikan atau lebih mudah menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Pada gilirannya konseli dapat menikmati belajar dengan aktif, efektif, enjoy dan mampu melakukan pengembangan diri cara belajar dan pemecahan masalah yang dihadapi. Lebih berkembang lagi diharapkan konseli mampu menemukan cara belajar sendiri dan cara memecahkan masalahnya sendiri. 
Pemanfaatan media cetak sebagai salah satu media yang dapat dipergunakan menyampaikan pesan pembimbing konseling dirasakan cukup efektif. Khususnya dalama upaya penanaman nilai-nilai budi pekerti. Hali ini mengingat bahwa penyimpangan perilaku yang dimuat media cetak (Koran) merupakan kondisi nyata sebagian pergaulan yang ada di masyarakat. Ketika konseli dihadapkan pada kondisi tersebut diharapkan dapat mempengaruhi pikiran dan perasaannya untuk memilih dan memilah bagaimana sebaiknya konseli harus bergaul di tengah-tengah masyarakat, sekolah maupun keluarga. Demikian halnya dengan kondisi pergaulan positif yang dimuat di media cetak, diharapkan mampu mengubah cara berpikir dan mengembangkan cara bergaul secara positif. Diharapkann pula konseli mampu membangun pemikiran bahwa menerapkan nilai-nilai budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari melalui pergaulan positif akan lebih memudahkan diri dalam pencapaian masa depan.
Media penyampaian pesan yang dapat dimanfaatkan guru pembimbing selain media cetak dapat menggunakan media teknologi informasi (TIK). Kemampuan guru pembimbing memanfaatkan media TIK perlu ditingkatkan dengan harapan konseli menerima pesan materi layanan bisa lebih mudah, aktif dan senang. Beberapa hal yang dapat ditangkap dari pengamatan khususnya bagi guru pembimbing di SMPN 2 Candipuro khususnya pemanfaatan TIK dalam layanan bimbingan konseling masih belum maksimal. seperti pemanfaatan LCD, laptop, CD layanan bimbingan konseling, TV dan sebagian yang lain fasilitas TIK yang ada disekolah.
Memperhatikan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah yaitu 1) apakah melalui diskusiguru pembimbing dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyusun RPBK dengan memanfaatkan media Koran dan TIK ? 2)apakah penerapan RPBK dengan menggunakan media Koran dan TIK dapat menigkatkan persentase ketuntasan klasikal?
Proses bimbingan dan konseling pada hakekatnya adalah proses pemberian bantuan kepada individu atau sekelompok individu agar ia dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Arief S. Sadiman seperti dikutip oleh Sukijo (2003:5) menyebutkan kegunaan media pendidikan meliputi: 1) memperjelas penyampaian pesan, 2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, 3) mengatasi sikap pasif konseli dengan jalan menggunakan media secara tepat dan bervariasi, 4) memberikan pengalaman yang integral dari yang konkrit sampai yang abstrak dan 5) menyamakan pengalaman.
Dalam konteks penelitian ini yaitu pemanfaatan media untuk membantu layanan informasi dengan materi nilai-nilai budi pekerti diharapkan guru pembimbing mampu mengoperasionalkan media yang dipergunakan yaitu media cetak dan media computer yakni laptop dan layar tayangan.
1.      Media Cetak Koran
Surat kabar merupakan salah satu media cetak dapat dimanfaatkan sebagai media pembimbing dan konseling di sekolah. Pada surat kabar dapat ditampilkan secara terbuka berbagai fakta dan actual yang disajikan dalam bentuk informasi. Secara khusus sering dijumpai atau disajikan penyimpangan-penyimpangan perilaku dalam pengertian perilaku yang memiliki nilai-nilai budi pekerti.
Pemanfaatan media cetak surat kabar oleh guru pembimbing hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menarik. Desain yang bagus dan menarik diharapkan tidak hanya memudahkan konseli menerima pesan tetapi mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi secara mandiri.
1.      Media TIK
Media berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu dari berbagai media yang dapat dimanfaatkan dalam proses bimbingan dan konseling. Dalam proses bimbingan konseling, media TIK dapat dikembangkan secara baik. Pengembangan media TIK ini ada yang dikenal dengan media TIK “kreatif” yaitu merupakan hasil rekayasa pengkombinasian media TIK. Dalam hal ini menuntut guru pembimbing lebih banyak pengembangan diri pemanfaatan media yang berbasis TIK.  
2.      Dalam proses pembelajaran dan bimbingan koseling pemanfaatan media sebagai alat bantu agar dapat berjalan efektif. Secara psikologis mempengaruhi suasana, dan lingkungan pelaksanaan belajar atau bimbingan konseling.
3.      Keaktifan Konseli
Keaktifan konseli menerima materi layanan khususnya nilai-nilai budi pekerti luhur harus dibangun. Materi tersebut bukanlah pelajaran hafalan atau hitungan melainkan bentuk perilaku yang harus dipelajari untuk diperbuat.
4.      Diskusi dan Manfaatanya
Diskusi ialah suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui dara tukar-menukar informasi, mempertahankan pendapatan, atau pemecahan masalah (Hasibuan: 1986:20).
Metode
Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Penelitian dilakukan selama 3 bulan dalam semester ganjil tahun 2008 di SMP Negeri 2 Senduro. Pengumpulan data dilakukan melalui 3 siklus. Subjek penelitian adalah guru pembimbing sebanyak 2 orang. Materi penelitian adalah pemanfaatan media Koran dan TIK dalam layanan informasi bimbingan konseling dengan materi Nilai-nilai Budi Pekerti. Teknik pengumpulan data penelitian dikumpulkan melalui observasi, catatan lapangan, tes dan review.
Simpulan
Hasil penelitian yang telah diperoleh disimpulkan sebagai berikut:
a.       Pelaksanaan diskusi teman seprofesi guru pembimbing bisa meningkatkan kemampuan guru dalam pemanfaatan media surat kabar dan TIK pada pelayanan informasi dengan materi nilai-nilai budi pekerti semester ganjil di SMP Negeri 2 Senduro Kabupaten.
b.      Penerapan RPBK pada layanan informasi klasikal dengan memanfaatkan media Koran dan TIK, mampu meningkatkan ketuntasan klasikal pada setiap guru pembimbing walupun pemanfaatan media TIK lebih efektif dari pada media Koran.



JURNAL 3 :

KONSELING HIV ONLINE BERBASIS INTERNET
Oleh : Muhammad Sunarto


Kasus HIV/AIDS di Indonesia berawal pada tahun 1987 yang pertama kali ditemukan pada tahun 1987 di Bali yakni seorang turis yang berasal dari Belanda. Namun seiring dengan waktu meningkat sangat tajam. Kasus   tersebut bukan lagi pada turis  asing namun telah menjangkiti warga Negara Indonesia sendiri dan bahkan telah ada di  seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan yang sangat tajam banyak dijumpai di daerah -daerah tertentu dan kelompok - kelompok perilaku risiko tinggi terutama pekerja seks dan  pelanggannya.  Hasil survei sekitar tahun 2000- 2002 menunjukkan bahwa pro- porsi  pekerja seks yang terinfeksi HIV masing -masing 26% di Merauke, 6% di Sorong, 8% di  Batam/Karimun dan 22% pada waria di Jakarta. Survei pada pekerja seks di Denpasar  juga menunjukkan bahwa dalam waktu 6 bulan proporsi yang terinfeksi HIV meningkat sebanyak 300%, yaitu dari 1% pada bulan Juni - September 2000 menjadi 2% pada bulan Oktober - Desember dan menjadi 7% pada bulan April - Mei 2001. Survei pada lebih dari 800 orang laki - laki kelompok tertentu di Denpasar pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 1% dari mereka HIV+. Pada pemakai narkotika suntik proporsinya bahkan jauh lebih  tinggi yaitu 53% di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar, 40% di RSKO Jakarta dan 24% di pusat rehabilitasi Bogor. Epidemi HIV diperkirakan sudah menjangkau masyarakat umum. Ini tercermin dari peningkatan proporsi HIV+ pada darah donor sebanyak 10 kali lipat pada tahun 2001 dibanding 3 tahun sebelumnya. Pada tahun 2003, jumlah penduduk Indonesia yang telah terinfeksi HIV diperkirakan sekitar 120.000 orang dan infeksi baru yang akan terjadi tahun 2003 diperkirakan sekitar 80.000 orang dan hingga Juni 2010 kasus AIDS telah mencapai 21.770 kasus dan telah meninggal sejumlah 4128. Di antara kasus tersebut kelompok umur yang terbanyak adalah pada rentang usia 15 –59 tahun 20.354 kasus, kelompok ini merupakan kelompok usia produktif dan aktif secara seksual. (Gunung, 2003; Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2010).
Melihat kasus - kasus yang terjadi sangat tinggi pada kelompok usia produktif maka akan memberikan dampak yang sangat luas pada penderita yang bukan hanya masalah kesehatan namun juga akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan pada penderita. Diantara dampak tersebut adalah stigmatisasi dan diskriminalisasi dari orang -orang di sekitarnya. Hal ini akan menyurutkan niat dari seorang penderita untuk dapat mengakses layanan kesehatan sehingga memungkinkan seseorang untuk dapat menularkan virusnya kepada orang lain yang semakin hari semakin bertambah. Ketertutupan dari seorang 4 penderita bukan hanya berdampak pada diri sendiri namun juga pada keluarga, dan lingkungan sekitarnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Penderita memandang bahwa penyakit yang diderita bila diketahui oleh publik maka akan di usir, dianggap telah melakukan perbuatan asusila, melanggar norma - norma dan aturan - aturan yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu seorang penderita akan menutup informasi tentang dirinya secara ketat. Hal ini jelas akan memperburuk kondisi dari seorang penderita. Upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir dampak yang muncul dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan keinginan penderita atau orang yang berisiko tertular untuk melakukan konseling dan tes HIV, diperlukan akses yang lebih mudah, terjangkau bagi masyarakat luas serta kerahasiaan terjamin.

Pengertian Konseling, online dan konseling online.

1.     Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan (WHO, 2004). Suatu dialog antara seseorang yang bermasalah (klien) dengan orang yang menyediakan pelayanan konseling ( konselor/perawat/perawat) dengan tujuan untuk memberdayakan klien agar mampu menghadapi permasalahannya dan sanggup mengambil keputusan yang mandiri atas permasalahan tersebut.(Gunung, et al, 2003).
2.     Online adalah Komputer atau perangkat yang terhubung ke jaringan (seperti Internet) dan siap untuk digunakan (atau digunakan oleh) komputer atau perangkat lain.(Business Dictionary, 2010)
3.     Online Konseling adalah konseling melalui internet yang secara umum merujuk pada profesi yang berkaitan dengan layanan kesehatan mental melalui teknologi komunikasi internet. (Amani,2007)

Konsep Online
Online konseling mengacu pada kegiatan konseling yang berbasis hubungan virtual dengan beradasar pada kebutuhan klien yang masih mempunyai jarak dan masih ragu untuk lebih terbuka kepada orang lain ( Hanley T.,2006). Walaupun sebenarnya online konseling merupakan hal yang masih langka di Indonesia namun beberapa negara maju di bidang teknologi telah memanfaatkan teknologi informasi ini dalam memberikan kemudahan akses bagi masyarakatnya.Di Indonesia, hanya ada satu layanan yang memberikan konseling dan tes HIV melalui internet yakni www.mautau.com. Namun layanan ini merupakanlayanan yang diselenggarakan oleg sebuah LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS.
Pada instansi pemerintah hal ini belum akrab digunakan.Keunggulan layanan ini adalah memberikan layanan yang mudah dan murah serta kerahasiaan terjamin dan daya jangkau yang sangat luas di seluruh wilayah yang telah mempunyai akses internet. Namun disamping keunggulan tersebut, layanan ini jelas memiliki kelemahan yakni menyulitkan bagi orang - orang yang tidak memahami  teknologi komputer dan telepon genggam berbasis internet dan chatting serta kesulitan dalam memahami emosi yang muncul dari kedua belah pihak terutama kliennya. diadaptasi dari http://picsdigger.com/domain/houstonzoo.org/ dengan modifikasi. Pada layanan konseling online ini,  konselor/perawat harus memiliki komputer atau  telepon genggam yang terkoneksi dengan internet dan mempunyai fasilitas chatting. Langkah - langkahnya :
1.     Klien menghubungi konselor/perawat melalui koneksi internet melalui fasilitas chatting dan konselor/perawatmelakukan proses konseling online dengan cara chatting kepada klien
2.     Setelah klien merasa telah siap untuk melakukan tes maka klien dapat mengisi form isian yang dapat diunduh dan ditandatangani kemudian klien mendatangi laboratorium untuk melakukan tes
3.     Pihak laboratorium akan memberikan hasil tes kepada konselor melalui fasilitas isian yang telah disediakan oleh konselor.
4.     Klien kemudian melakukan proses konseling kembali, apabila yang bersangkutan dinyatakan negatif dan tidak dalam proses masa periode jendela maka yang bersangkutan bisa dibacakan hasilnya melalui proses chating namun apabila hasilnya positif maka klien diharapkan datang ke klinik untuk proses konseling lebih lanjut. Hal ini dilakukan untuk memberikan rasa aman pada klien atas hasil yang diperolehnya.
5.     Konselor memberikan konseling lanjutan dan rujukan sesuai dengan kebutuhan klien.Konselor/perawat

Penderita/klien atau orang - orang yang berisiko tertular HIV adalah mereka yang mempunyai masalah ketakutan akan diskriminasi dan stigmatisasi dari lingkungannya. Mereka adalah orang-orang yang kemungkinan juga akan menularkan kepada orang - orang di sekitarnya bila mereka tidak mengetahui status HIV -nya. Layanan konseling online hanyalaha segelintir layanan yang dapat diberikan kepada masyarakat luas dalam memberikan kemudahan dan menghilangkan rasa takutnya terdiskriminasi dan terstigmatisasi sampai mereka mampu untuk lebih terbuka kepada orang - orang di sekitarnya dan masyarakat pada umumnya. Kemudahan akses ini pula memungkinkan seorang klien lebih mudah mendapatkan layanan sesuai dengan kebutuhannya akan permasalahan kesehatan yang dihadapi serta masalah - masalah lain yang terkait dengnan penyakit yang dideritanya tersebut.
Layanan ini bukan tidak memiliki kelemahan, namun diharapkan kelemahan ini dapat diperkecil dengan kemampuan konselor dalam menguasai teknologi dan juga kemampuan konselingnya sehingga mereka mampu mengambil langkah - langkah yang tepat dalam meminimalisasi kemungkinan yang akan timbul akibat proses konseling ini. Layanan konseling online ini diharapkan ada dan mampu disediakan oleh pemerintah dalam upaya mencapai target sasaran yang lebih optimal dan meminimalisasi penularan yang semakin hari semakin meningkat.Layanan konseling online ini diharapkan dapat tersedia di semua layanan Klinik VCT
yang telah ada di seluruh Indonesia khususnya rumah sakit -rumah sakit
kabupaten dan beberapa puskesmas di beberapa wilayah yang memiliki risiko tinggi penularan HIV.



JURNAL 4 :
Konseling Online: Sebuah Pendekatan Teknologi
Dalam Pelayanan Konseling
Oleh : Zadrian Ardi Frischa Meivilona Yend

Konseling mengandung nilai - nilai pendidikan dan membawa tugas untuk memuliakan kemanusiaan manusia. Secara aplikatif, proses konseling akan membawa seseorang menuju kondisi yang membahagiakan,sejahtera dan berada pada kondisi efektif dalam kehidupan sehari - hari (Prayitno, 2009: 19). Kemudian, konseling didesain untuk menolong klien memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk membantu men¬capai tujuan penentuan diri (self - determinan) mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal. (Burks dan Stefflre, dalam John McLeod, 2008: 5). Perkembangan konseling juga tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Pada awalnya konseling hanya sebatas pertemuan tatap muka (face to face) antara Konselor dan Klien, namun saat ini konseling juga dapat diselenggarakan dengan berbagai media yang memungkinkan hubungan konseling jarak jauh (Prayitno, 2012: 136). Penghantaran konseling jarak jauh yang dibantu oleh teknologi terus bertumbuh dan mengalami proses evolusi. Bantuan teknologi di dalam bentuk penilaian dengan bantuan komputer dan sistem informasi dengan bantuan komputer telah tersedia dan digunakan secara luas selama beberapa waktu ini. Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet untuk meng¬hantarkan informasi dan menyokong komunikasi telah menghasilkan bentuk -bentuk konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi teknologi dan praktiknya.Penggunaan teknologi dalam konseling telah tumbuh dengan sangat cepat. Apa yang semula hanya janji,kini telah menjadi kenyataan, dan “teknologi telah memberikan dampak yang kuat pada hampir semua kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, sains, agama, pemerintahan, pengobatan, dan pertanian” (Hohenshil, dalam Samuel T Gladding, 2012:28)
Perkembangan konseling juga tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Pada awalnya konseling hanya sebatas pertemuan tatap muka (face to face) antara Konselor dan Klien, namun saat ini konseling juga dapat diselenggarakan dengan berbagai media yang memungkinkan hubungan konseling jarak jauh (Prayitno, 2012: 136). Penghantaran konseling jarak jauh yang dibantu oleh teknologi terus bertumbuh dan mengalami proses evolusi. Bantuan teknologi di dalam bentuk penilaian dengan bantuan komputer dan sistem informasi dengan bantuan komputer telah tersedia dan digunakan secara luas selama beberapa waktu ini. Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet untuk meng¬hantarkan informasi dan menyokong komunikasi telah menghasilkan bentuk - bentuk konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi teknologi dan praktiknya. Penggunaan teknologi dalam konseling telah tumbuh dengan sangat cepat. Apa yang semula hanya janji, kini telah menjadi kenyataan, dan “teknologi telah memberikan dampak yang kuat pada hampir semua kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, sains, agama, pemerintahan, pengobatan, dan pertanian” (Hohenshil, dalam Samuel T Gladding, 2012:28)
Semula, teknologi digunakan dalam konseling untuk mempermudah penyimpanan rekaman, mengolah data dan mengolah kata. Kini, factor -faktor yang mempengaruhi interaksi teknologi - klien semakin mendapat perhatian, khususnya internet dan telepon (Reese, Conoley, dan Brossart, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28) “Jumlah aplikasi komputer berbasis jaringan dalam konseling meningkat sangat cepat” (Sampson, Kolodinsky, dan Greeno, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28). E -mail juga digunakan dalam interaksi konselor - klien. Situs web dikelola oleh organisasi konseling, program pendidikan konselor, dan konselor individual (Pachis, Rettman, dan Gotthoffer, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28). Bahkan terdapat jurnal konseling profesional online. Kondisi perkembangan internet yang membawa dampak pada pelayanan konseling dibuktikan dengan munculnya lebih dari 200.000 website penyedia layanan konseling di seluruh dunia, dengan menyediakan ribuan konselor yang siap membantu individu dengan berbagai permasalahannya (Pittu Laungani, 2004: 101). Selanjutnya banyak konselor yang telah mengiklankan layanannya melalui website di seluruh dunia, sehingga klien yang berasal dari negara dan lokasi manapun dapat mengakses dan mendapatkan layanan konseling (John McLeod, 2009: 552).

RUANG LINGKUP KONSELING ONLINE
Proses pelaksanaan konseling online akan berhubungan dengan semua perangkat pendukung layanan tersebut, apakah itu hardware, software, ataupun networking infrastructure yang akan memungkinkan konselor dan klien melakukan hubungan konseling. Beberapa hal yang perlu untuk diketahui oleh konselor yang akan terlibat dalam hubungan konseling via internet diantaranya; pertama internet dan web, internet sesuai dengan perkembangannya membawa suatu kode dan bahasa tersendiri sehingga antara satu komputer dengan computer lain dapat saling berkomunikasi satu sama lain dengan lancar dan hampir tidak memiliki permasalahan berkenaan dengan waktu dan jarak tempuh (Hagen Graf, 2008: 8). Terdapat perbedaan mendasar antara internet dan web. Pada dasarnya internet merupakan kumpulan dari jaringan komputer yang tersebar di seluruh dunia, dimana semua komputer tersebut dapat saling bertukar informasi dan data menggunakan communication protocols.Sedangkan web merupakan jutaan dokumen elektronik yang saling berhubungan sehingga dapat diakses menggunakan Internet Protocol (Ron Kraus, George Stricker dan Cedric Speyer, 2010: 73-74). Hal kedua yang perlu diketahui Konselor adalah email dan chat program, email merupakan salah satu komunikasi standar pada internet, sedangkan text chat sedikit berbeda dari email sehingga pengguna (Konselor dan Klien) dapat berkomunikasi dengan keadaan real - time dengan menggunakan internet (Ron Kraus, Jason S. Zack, George Stricker, 2004: 104 - 106). Selanjutnya Ron Kraus, dkk mengemukakan videoconferencing merupakan suatu aplikasi yang hampir sama degan text chat, namun selain mengandung unsur pertukaran informasi melalui text juga terjadi komunikasi melalui tampilan video masing - masing pengguna secara real - time.Selanjutnya, hal penting yang harus dipahami konselor adalah pertukaran data dan informasi klien melalui document sharing and form, sehingga konselor dapat mengetahui data -
data umum dari klien maupun data berkenaan dengan permasalahan klien selama proses konseling berlangsung.
Beberapa keuntungan yang diperoleh melalui konseling online adalah;
1.     terdapat rekaman yang permanen selama proses konseling berlangsung, hal ini akan sangat bermanfaat bagi klien, konselor maupun supervisor konselor,
2.     seni mengetik akan membantu individu untuk merefleksikan pengalamannya, (3) klien dapat mengekspresikan perasaannya dalam kondisi “sekarang”, klien dapat segera mengetik dan mengirimkan email ketika sedang merasa depresi atau mengalami gejala panik tanpa harus menunggu hingga sesi konseling berikutnya (Murphy and Mitchell, dalam John McLeod, 2009: 553).
Namun demikian, permasalahan kode etik dalam pelayanan konseling online perlu mendapat perhatian lebih lanjut dari petugas lapangan maupun pengembang pendekatan ini. Berdasarkan hasil survey Shaw and Shaw (dalam John McLeod, 2009: 553) mengenai permasalahan kode etik pelayanan konseling online bahwa pada tahun 2002 terdapat 88 website konseling, yang hanya 88% diantaranya mencantumkan nama lengkap konselor dengan 75% konselor yang telah berkualifikasi, kemudian 49% menggunakan prosedur penilaian dan hanya 27% menggunakan software pengaman yang telah terenkripsi, hal ini merupakan peringatan bagi konselor yang bergerak dalam ranah konseling online.

Sumber : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=66309&val=4796


JURNAL 5 :
Sistem Informasi Manajemen Bimbingan dan Konseling (SIM-BK)
Sekolah Menengah Atas di Kota Bandung
Oleh : Eka Sakti Yudha (Universitas Pendidikan Indonesia)


Dewasa ini dunia tengah berada pada era informasi, hal ini berarti bahwa informasi sudah menyentuh seluruh segi kehidupan dan penghidupan baik pada tingkat individual, tingkat kelompok, dan tingkat organisasi. Pada tingkat individu, misalnya aneka ragam informasi yang dibutuhkan berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, bisnis dan sebagainya. Penggunaan teknologi informasi melalui sistem informasi bukan hanya akan meningkatkan kualitas serta kecepatan informasi yang dihasilkan bagi manajemen akan tetapi dengan teknologi informasi yang tepat, akan menciptakan suatu sistem informasi yang mampu meningkatkan integritas di bidang informasi dan operasi diantara berbagai pihak yang ada di suatu organisasi lokal maupun global.  
Sesungguhnya, konsep sistem informasi telah ada sebelum munculnya komputer. Sebelum pertengahan abad ke-20, namun penelitian dan penerapan aplikasi teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling dimulai pada tahun 1990's (Edwards, Portman dan Bethea, 2002). Sebagian besar penelitian yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam konseling dapat dikelompokkan menjadi 3 bidang utama yang digunakan dalam teknologi (1) pencatatan, (2) analisis data, (3) cybercounseling dan cyberlearning. (Yusof, 2009). Di Indonesia sendiri penerapan teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling tengah dimulai sejak tahun 1990-an, namun mulai dipublikasikan mulai tahun 2003.
Menurut hasil wawancara yang dilakukan terhadap 40 orang guru BK yang bertugas di SMA negeri Bandung, mengindindikasikan 70% sekolah; lebih spesifiknya menajmen BK (bimbingan dan konseling) belum menggunakan komputer sebagai alat bantu pemanggilan data siswa (Yudha, 2007). Dapat dibayangkan konselor yang bertugas dilapangan sangat disibukkan dengan kendala administratif yang semestinya dapat terkoordinir dengan baik. Terlebih lagi konselor yang bertugas di lapangan tidak dibekali dengan kemapuan/softskill mengoperasikan atau membuat program komputer, untuk mempermudah kinerjanya.
Menurut hasil observasi yang dilakukan pada konselor SMA negeri di kota Bandung, konselor membutuhkan waktu hingga 1 minggu ketika membutuhkan informasi tertentu yang berkenaan dengan siswa (Yudha, 2007), pengelolaan data dan informasi bimbingan dan konseling yang dilakukan secara manual, jika tidak segera dibenahi, maka implikasinya akan berimbas pada diri konselor hingga pada kepuasan pelayanan stakeholders.
Implikasi bagi konselor diantaranya adalah dengan adanya fenomena burnout di kalangan guru/konselor (Ilfiandra, 2002), menurut survey yang dilakukan majalah Tempo bulan April tahun 2000 tentang masalah yang paling berat dirasakan guru/ konselor diantaranya adalah beban administrasi (Tempo, 2000). Persoalan yang lebih spesifik adalan temuan Arismunandar (1997) bahwa 21,62% konselor mengalami stres kerja ringan, 48,11% stres kerja sedang dan 30,27% mengalami stres kerja serius.
Dukungan sistem dalam layanan bimbingan konseling bertujuan untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program layanan bimbingan dan konseling (Eric:1990 dalam Nurihsan, 2003:66). Mutu layanan BK akan berkualitas jika dirancang berdasarkan analisa kebutuhan stakeholders di lapangan. Dengan dukungan sistem yang baik analisa kebutuhan tersebut dapat menjadi informasi yang sangat berguna.
Selanjutnya, aktivitas manajemen tersebut diarahkan pada pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya masyarakat, pengembangan dan penataan kebijakan (Nurihsan, 2003:66). Pengembangan program yang dimaksud adalah penyusunan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi riil siswa di sekolah, pengembangan tersebut sebagai sebuah upaya strategis bagi peningkatan mutu layanan bimbingan dan konseling.
Pengembangan sistem informasi manajemen dilakukan melalui beberapa tahap, dimana masing-masing langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci dari tahap sebelumnya. Tahap awal dari pengembangan sistem umumnya dimulai dengan mendeskripsikan kebutuhan pengguna dari sisi pendekatan sistem rencana stratejik yang bersifat makro, diikuti dengan penjabaran rencana stratejik dan kebutuhan organisasi jangka menengah dan jangka panjang, lazimnya untuk periode 3 sampai 5 tahun. Masukan (input) utama yang dibutuhkan dalam tahap ini mencakup: (1) kebutuhan stratejik organisasi; (2) aspek legal pendukung organisasi; (3) masukan kebutuhan dari pengguna (Sutono:2007).
Pendekatan pengembangan sistem informasi manajemen yang sederhana, lebih dikenal sebagai model air terjun (waterfall model). Pekerjaan pengembangan sistem dengan model air terjun dimulai dengan pembuatan spesifikasi kebutuhan suatu sistem. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh orang yang memesan sistem atau pengembang yang bekerja sama dengan pemesannya. Setelah spesifikasi kebutuhan ini selesai, lantas dilakukanlah suatu analisis dan deskripsi logika sistem melalui sebuah penelitian.
Gerakan penelitian besar-besaran untuk mempelajari dampak teknologi dalam konseling dimulai pada tahun 1990's (Edwards, Portman dan Bethea, 2002). Sebagian besar penelitian yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam konseling dapat dikelompokkan menjadi 3 bidang utama yang digunakan dalam teknologi (1) pencatatan, (2) analisis data, (3) cybercounseling dan cyberlearning (Yusof, 2009). Di Indonesia sendiri penerapan teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling tengah dimulai sejak tahun 1990-an, namun mulai dipublikasikan mulai tahun 2003.
Penelitian yang dilakukan Bayuargo (2008) tentang sistem pengolahan data siswa, sistem informasi baru mampu menghasilkan laporan yang lebih lengkap dan dapat diakses dengan cepat, efisien dan akurat. Sangat mengurangi tingkat kesalahan-kesalahan data akibat keteledoran manusia (Human Error).
Sementara dari penelitian Susetyowati (2009) tentang aplikasi sistem informasi bimbingan dan konseling yang telah dilakukan pada SMK Muhammadiyah 1 Salam dapat diambil kesimpulan bahwa sistem lama yang sedang berjalan pada SMK Muhammadiyah 1 Salam masih manual dan human error yang ditimbulkan oleh sistem lama lebih banyak jika dibandingkan dengan sistem baru serta biaya yang dikeluarkan pada sistem lama akan lebih besar dibandingkan dengan sisem yang baru. Sistem baru dengan basis komputer khususnya dengan aplikasi Visual Basic 6.0 informasi yang dihasilkan lebih berkualitas dan dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan. karena sistem komputerisasi mempunyai benyak keuntungan terutama dalam pengolahan data.
Perkembangan teknologi dan informasi, tentunya tidak bisa terpisahkan dari kompetensi konselor selaku pengguna. Kompetensi tersebut merupakan kompetensi teknis yang terkait dengan kemampuan konselor dalam menggunakan berbagai aplikasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang terkait dengan layanan bimbingan dan konseling.
Informasi yang lengkap, tepat, waktu cepat, akurat dan jelas sangat membantu pemimpin dalam mengambil keputusan dan karyawan dapat melakukan suatu langkah yang mendukung manajemen tanpa harus diperintah secara langsung oleh pimpinan dalam melakukan tindakan operasional.
Sistem informasi yang baik dapat membantu kelancaran, kecepatan dan efisiensi mekanisme kerja dari pengolahan data siswa sehingga informasi dapat diperoleh dengan cepat. 
Sistem perangkat lunak (software) yang kami buat pada SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta sangat memungkinkan untuk meningkatkan efektifitas kerja, mengurangi kesalahan-kesalahan dalam pengolahan data siswa, mempercepat proses pencarian data serta menghemat media penyimpanan data (Indrihastuti, 2008).

SUMBER : file.upi.edu/...BIMBINGAN/.../EKA%20SAKTI%20Y..

0 komentar: