JURNAL
1 :
PENERAPAN KONSELING KELOMPOK DENGAN
STRATEGI SELF-MANAGEMENT UNTUK MENGURANGI KEBIASAAN BERMAIN VIDEO GAMES
Oleh
: Wijayanti dan Muhari
Globalisasi dan modernisasi dalam bidang teknologi dan komunikasi
semakin memudahkan arus informasi dan komunikasi. Hal itu menimbulkan perubahan
pada bentuk nilai-nilai kehidupan secara bebas. Perubahan bentuk pada
nilai-nilai kehidupan ini tidak bisa dihindari lagi, karena merupakan muatan
global dari informasi dan komunikasi itu sendiri. Demam video games marak
ditemukan pada kelompok anak pra-remaja dan remaja diberbagai belahan dunia.
Sejumlah penelitian pada anak menunjukkan permainan game interaktif dapat
menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan tingkat pernafasan.
Sistem syaraf juga lebih terangsang. Tes kognitif yang dilakukan pra dan pasca
game computer juga menunjukkan penurunan kemampuan daya ingat. Hal itu
menunjukkan bahwa bermain game atau menonton film berdampak besar terhadap proses
belajar, termasuk terhadap kemampuan mengingat hal-hal yangt baru saja terjadi.
Jika game sampai mengendalikan perilaku dan kehidupan sahari-hari seseorang,
maka dapat dikatakan bahwa penggunaan video game berdampak negatif.
Dalam penelitian ini menggunakan layanan konseling kelompok.
Konseling kelompok ini dapat dikombinasikan dengan menggunakan strategi
konseling yaitu self-management. Self-management adalah suatu proses dimana
klien mengarahkan perubahan tingkah laku mereka sendiri, dengan menggunakan
satu strategi atau kombinasi strategi. Strategi self-management terdiri dari
self-monitoring adalah upaya klien untuk mengamati diri sendiri, mencatat
sendiri tingkah laku tertentu tentang dirinya dan interaksi dengan peristiwa
lingkungan. Stimulus control adalah rangsangan sebelumnya antecedent atau
isyarat pedoman/petunjuk untuk menambah atau mengurangi tingkah laku.
Self-reward adalah pemberian hadiah pada diri sendiri, setelah tercapainya
tujuan yang diinginkan. Lebih lanjut dikatakan bahwa permasalahan yang dapat
diatasi dengan menggunakan strategi self-management antara lain: (1) control
berat badan (2) latihan ketrampilan hubungan interpersonal (3) kecemasan (4)
kecanduan (5) depresi (6) imsomnia (7) prestasi belajar.
Bermain
Video Games
1. Pengertian
Video Games
Dunia video games bukan hanya besar, melainkan juga beragam.
Ada game ding-dong: mesin-mesin yang menggunkan kion, umumnya satu game per
mesin. Ada juga game computer, yang dimainkan di computer pribadi (PC). Ada
juga game genggam, baik yang khusus (seperti perangkat permainan memancing
ikan) maupun yang mampu memainkan banyak game berbeda (seperti Nintendo
GameBoy). Dan ada game digital seperti Sony Play Station, yang berjalan pada
konsol dan menampilkan gambarnya di TV kita. Perbedaan-perbedaan ini tidak
hanya meliputi bentuk perangkat, namun juga melebar hingga karakteristik game
yang dimainkan dan cara pengguna memainkan.
2. Dampak
Positif dan Negatif Permainan Video Games
a.
Dampak Positif: dapat memberi rasa rileks dan mengendorkan urat syaraf dari
kebiasaan rutin atau lelah bekerja, melatih kemampuan pemain untuk konsentrasi
dan memusatkan perhatian, melatih memecahkan masalah dengan analisa kemampuan
untuk mengatur sistematis kerja untuk mencapai tujuan, mengembangkan kecepatan
reaksi dan persepsi audio visual, tidak membuat orang gampang putus asa, dan
melatih mengembangkan kesabaran dan ketekunan.
b. Dampak
Negatif: dampak negative permainan video games, antara lain: membuat pemainnya
lupa waktu, lupa belajar, lupa tugas dan tanggung jawab, membuat pemainnya
tidak produktif, karena waktunya habis untuk bermain video games, meningkatkan
agresifitas pemainnya, karena pengaruh aksi-aksi kekerasan yang terbiasa
disaksikan, menyebabkan anti social, karena keranjingan main video games, dan
menyebabkan ketegangan emosional antara orang tua dan anak yang kecanduan main
video games.
3. Sebab
dan Pengaruh Video Games bagi Individu
Menurut Henry (2010), apa dan bagaimana game bertindak dan
berpengaruh terhadap perilaku anak.
a.
Imajinasi: Game memberikan imajinasi kepada anak.
b. Interaktifitas:
Game memberikan interaktif yang baik kepada pemainnya.
c.
Kebebasan: Dengan bermain game, si anak bisa belajar dengan nyaman dari
kesalahan yang dibuatnya.
d. Pengulangan:
Game interaktif dengan mudah memberikan proses pengulangan yang menantang anak
untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukannya.
Permasalahn kebiasaan bermain video games disebabkan karena
control diri yang kurang terhadap tingkah laku individu. Keterangan tersebut
sejalan dengan pengertian strategi self-management yaitu berfokus pada
perubahan tingkah laku, memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang
diinginkan.
Konseling
Kelompok dengan Strategi Sels-Management
1. Pengertian
Konseling Kelompok
Menurut pendapat Shertzerdan Stone bahwa konseling kelompok
merupakan suatu proses dimana seorang konselor terlibat didalam suatu hubungan
dengan sejumlah konseli pada waktu yang sama yang bertujuan untuk membantu
siswa dalam memecahkan suatu masalah.
2. Pelaksanaan
dan Tahapan dalam Konseling Kelompok
Tahap-tahap Konseling Kelompok:
a.
Tahap I: Pembentukan
Anggota kelompok hendaknya mengetahui tujuan dibentuknya
kelompok. Tema yang diambil adalah pengenalan, perlibatan diri dan pemasukan
diri.
b. Tahap
II: Peralihan
Untuk meninjau pemahaman anggota kelompok terhadap apa yang
akan dilaksanakannya seperti masih ragu-ragu untuk mengikuti layanan konseling
kelompok. Lihat suasana dan situasi anggota kelompok. Tema yang diambil adalah
pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga.
c.
Tahap III: Kegiatan
Pelaksanaan inti kegiatan dari konseling kelompok
d. Tahap
IV: Pengakhiran
Mengecek apa yang telah dicapai anggota kelompok (evaluasi).
Penyampaian kesan dan pesan serta penyampaian kapan akan dilaksanakan layanan
konseling kelompok kembali.
3. Pengertian
Strategi Self-Management
Self-management adalah strategi yang memberikan kesempatan
pada klien untuk mengatur atau memantau perilakunya sendiri dengan ssatu
strategi atau kombinasi strategi untuk mengubah perilaku.
METODE
Jenis penelitian ini adalah pre eksperiment dengan jenis
pre-test dan post-test one group design, sedangkan subjek penelitiannya adalah
6 siswa yang memiliki tingkat kebiasaan bermain video games tinggi di kelas
VIII-E SMP Negeri 1 Ngadirojo-Pacitan. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan
data tentang siswa yang memiliki kebiasaan bermain video games tinggi adalah
dari angket yang dikembangkan sendiri. Penerapan konseling kelompok dengan
strategi self-management dilakukan 8 kali pertemuan dengan menggunkan tahapan
dalam konseling kelompok yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap
kegiatan yang di dalamnya diterapkan langkah-langkah stategi self-management
dan tahap pengakhiran. Data dianalisis dengan menggunakan teknik statistik non
parametrik dengan menggunakan Uji Tanda.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang seswa
yang memiliki kebiasaan bermain video games tinggi adalah dari angket yang
dikembangkan sendiri. Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Tanda.
Hasil analisis Uji Tanda menunjukkan bahwa nomor urut yang bertanda negative
sejumlah 6 sedangkan yang bertanda positif sejumlah 0, sehingga terdapat
perbedaan skor antara pre-test dan post-test. Berdasarkan table probabilitas
binominal untuk p=0,5 , N=6, r=0 diketahui Ptabel = 0,016 dengan α=0,05.
Sehingga diperoleh α > peluang smpel yaitu (0,05>0,016) berarti H0
ditolak dan Ha diterima, maka disimpulkan bahwa ada penurunan kebiasaan bermain
video games antara sebelum dan sesudah penerapan konseling kelompok dengan
strategi self-management pada siswa kelas VIII-E di SMP Negeri I Ngadirojo
Pacitan. Rata-rata penurunan frekuensi bermain video games siswa setelah
penerapan konseling kelompok dengan strategi self-management selama 3 minggu
adalah 5x bermain dengan rata-rata penurunan durasi bermainnya 1 jam per
permainan.
Sumber:
JURNAL
2 :
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU
PEMBIMBING MENYUSUN RPBK DAN PENERAPANNYA DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA KORAN DAN
TIK MELALUI DISKUSI TEMAN SEPROFESI
Yuddo Suswanto
Banyak media layanan yang dapat dimanfaatkan oleh guru
pembimbing dalam upaya memberikan bantuan kepada konseli. Mulai dari media yang
bersifat konvensional sampai pada yang canggih. Mulai dari yang ada disekitar
guru pembimbing dan konseli sampai pada tingkat yang lebih luas. Persoalannya
adalah mau atau mampukah para guru pembimbing memanfaatkan media tersebut pada
proses layanan bimbingan dan konseling.
Peningkatan guru pembimbing dalam mengemban profesinya
sangat diharapkan bisa melakukan pengembangan profesi khususnya dalam pemanfaatan
media layanan bimbingan dan konseling. Hal ini dilakukan agar dapat lebih
mengefektifkan pemberian bantuan layanan kepada konseli. sehingga konseli di
harapkan dapat lebih mudah menyerap pesan yang diberikan atau lebih mudah
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Pada gilirannya konseli dapat
menikmati belajar dengan aktif, efektif, enjoy dan mampu melakukan pengembangan
diri cara belajar dan pemecahan masalah yang dihadapi. Lebih berkembang lagi
diharapkan konseli mampu menemukan cara belajar sendiri dan cara memecahkan
masalahnya sendiri.
Pemanfaatan media cetak sebagai salah satu media yang dapat
dipergunakan menyampaikan pesan pembimbing konseling dirasakan cukup efektif.
Khususnya dalama upaya penanaman nilai-nilai budi pekerti. Hali ini mengingat
bahwa penyimpangan perilaku yang dimuat media cetak (Koran) merupakan kondisi
nyata sebagian pergaulan yang ada di masyarakat. Ketika konseli dihadapkan pada
kondisi tersebut diharapkan dapat mempengaruhi pikiran dan perasaannya untuk
memilih dan memilah bagaimana sebaiknya konseli harus bergaul di tengah-tengah
masyarakat, sekolah maupun keluarga. Demikian halnya dengan kondisi pergaulan
positif yang dimuat di media cetak, diharapkan mampu mengubah cara berpikir dan
mengembangkan cara bergaul secara positif. Diharapkann pula konseli mampu
membangun pemikiran bahwa menerapkan nilai-nilai budi pekerti dalam kehidupan
sehari-hari melalui pergaulan positif akan lebih memudahkan diri dalam
pencapaian masa depan.
Media penyampaian pesan yang dapat dimanfaatkan guru
pembimbing selain media cetak dapat menggunakan media teknologi informasi
(TIK). Kemampuan guru pembimbing memanfaatkan media TIK perlu ditingkatkan
dengan harapan konseli menerima pesan materi layanan bisa lebih mudah, aktif
dan senang. Beberapa hal yang dapat ditangkap dari pengamatan khususnya bagi
guru pembimbing di SMPN 2 Candipuro khususnya pemanfaatan TIK dalam layanan
bimbingan konseling masih belum maksimal. seperti pemanfaatan LCD, laptop, CD
layanan bimbingan konseling, TV dan sebagian yang lain fasilitas TIK yang ada
disekolah.
Memperhatikan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah
yaitu 1) apakah melalui diskusiguru pembimbing dapat meningkatkan kemampuannya
dalam menyusun RPBK dengan memanfaatkan media Koran dan TIK ? 2)apakah penerapan
RPBK dengan menggunakan media Koran dan TIK dapat menigkatkan persentase
ketuntasan klasikal?
Proses bimbingan dan konseling pada hakekatnya adalah proses
pemberian bantuan kepada individu atau sekelompok individu agar ia dapat
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Arief S. Sadiman seperti dikutip oleh
Sukijo (2003:5) menyebutkan kegunaan media pendidikan meliputi: 1) memperjelas
penyampaian pesan, 2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, 3)
mengatasi sikap pasif konseli dengan jalan menggunakan media secara tepat dan
bervariasi, 4) memberikan pengalaman yang integral dari yang konkrit sampai
yang abstrak dan 5) menyamakan pengalaman.
Dalam
konteks penelitian ini yaitu pemanfaatan media untuk membantu layanan informasi
dengan materi nilai-nilai budi pekerti diharapkan guru pembimbing mampu
mengoperasionalkan media yang dipergunakan yaitu media cetak dan media computer
yakni laptop dan layar tayangan.
1. Media
Cetak Koran
Surat kabar merupakan salah satu media cetak dapat
dimanfaatkan sebagai media pembimbing dan konseling di sekolah. Pada surat
kabar dapat ditampilkan secara terbuka berbagai fakta dan actual yang disajikan
dalam bentuk informasi. Secara khusus sering dijumpai atau disajikan
penyimpangan-penyimpangan perilaku dalam pengertian perilaku yang memiliki
nilai-nilai budi pekerti.
Pemanfaatan media cetak surat kabar oleh guru pembimbing
hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menarik. Desain yang bagus
dan menarik diharapkan tidak hanya memudahkan konseli menerima pesan tetapi
mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi secara mandiri.
1. Media
TIK
Media berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
merupakan salah satu dari berbagai media yang dapat dimanfaatkan dalam proses
bimbingan dan konseling. Dalam proses bimbingan konseling, media TIK dapat
dikembangkan secara baik. Pengembangan media TIK ini ada yang dikenal dengan
media TIK “kreatif” yaitu merupakan hasil rekayasa pengkombinasian media TIK.
Dalam hal ini menuntut guru pembimbing lebih banyak pengembangan diri
pemanfaatan media yang berbasis TIK.
2. Dalam
proses pembelajaran dan bimbingan koseling pemanfaatan media sebagai alat bantu
agar dapat berjalan efektif. Secara psikologis mempengaruhi suasana, dan
lingkungan pelaksanaan belajar atau bimbingan konseling.
3. Keaktifan
Konseli
Keaktifan konseli menerima materi layanan khususnya
nilai-nilai budi pekerti luhur harus dibangun. Materi tersebut bukanlah
pelajaran hafalan atau hitungan melainkan bentuk perilaku yang harus dipelajari
untuk diperbuat.
4. Diskusi
dan Manfaatanya
Diskusi ialah suatu proses penglihatan dua atau lebih
individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai
tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui dara tukar-menukar informasi,
mempertahankan pendapatan, atau pemecahan masalah (Hasibuan: 1986:20).
Metode
Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan
Sekolah (PTS). Penelitian dilakukan selama 3 bulan dalam semester ganjil tahun
2008 di SMP Negeri 2 Senduro. Pengumpulan data dilakukan melalui 3 siklus.
Subjek penelitian adalah guru pembimbing sebanyak 2 orang. Materi penelitian
adalah pemanfaatan media Koran dan TIK dalam layanan informasi bimbingan
konseling dengan materi Nilai-nilai Budi Pekerti. Teknik pengumpulan data penelitian
dikumpulkan melalui observasi, catatan lapangan, tes dan review.
Simpulan
Hasil
penelitian yang telah diperoleh disimpulkan sebagai berikut:
a.
Pelaksanaan diskusi teman seprofesi guru pembimbing bisa meningkatkan kemampuan
guru dalam pemanfaatan media surat kabar dan TIK pada pelayanan informasi
dengan materi nilai-nilai budi pekerti semester ganjil di SMP Negeri 2 Senduro
Kabupaten.
b. Penerapan
RPBK pada layanan informasi klasikal dengan memanfaatkan media Koran dan TIK,
mampu meningkatkan ketuntasan klasikal pada setiap guru pembimbing walupun
pemanfaatan media TIK lebih efektif dari pada media Koran.
JURNAL 3 :
KONSELING HIV ONLINE BERBASIS
INTERNET
Oleh
: Muhammad Sunarto
Kasus HIV/AIDS di Indonesia berawal pada tahun 1987 yang
pertama kali ditemukan pada tahun 1987 di Bali yakni seorang turis yang berasal
dari Belanda. Namun seiring dengan waktu meningkat sangat tajam. Kasus tersebut bukan lagi pada turis asing namun telah menjangkiti warga Negara
Indonesia sendiri dan bahkan telah ada di seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan yang sangat
tajam banyak dijumpai di daerah -daerah tertentu dan kelompok - kelompok
perilaku risiko tinggi terutama pekerja seks dan pelanggannya. Hasil survei sekitar tahun 2000- 2002
menunjukkan bahwa pro- porsi pekerja
seks yang terinfeksi HIV masing -masing 26% di Merauke, 6% di Sorong, 8% di Batam/Karimun dan 22% pada waria di Jakarta.
Survei pada pekerja seks di Denpasar juga
menunjukkan bahwa dalam waktu 6 bulan proporsi yang terinfeksi HIV meningkat sebanyak
300%, yaitu dari 1% pada bulan Juni - September 2000 menjadi 2% pada bulan Oktober
- Desember dan menjadi 7% pada bulan April - Mei 2001. Survei pada lebih dari 800
orang laki - laki kelompok tertentu di Denpasar pada tahun 2001 menunjukkan
bahwa 1% dari mereka HIV+. Pada pemakai narkotika suntik proporsinya bahkan jauh
lebih tinggi yaitu 53% di Lembaga Pemasyarakatan
Denpasar, 40% di RSKO Jakarta dan 24% di pusat rehabilitasi Bogor. Epidemi HIV diperkirakan
sudah menjangkau masyarakat umum. Ini tercermin dari peningkatan proporsi HIV+
pada darah donor sebanyak 10 kali lipat pada tahun 2001 dibanding 3 tahun
sebelumnya. Pada tahun 2003, jumlah penduduk Indonesia yang telah terinfeksi
HIV diperkirakan sekitar 120.000 orang dan infeksi baru yang akan terjadi tahun
2003 diperkirakan sekitar 80.000 orang dan hingga Juni 2010 kasus AIDS telah
mencapai 21.770 kasus dan telah meninggal sejumlah 4128. Di antara kasus
tersebut kelompok umur yang terbanyak adalah pada rentang usia 15 –59 tahun 20.354
kasus, kelompok ini merupakan kelompok usia produktif dan aktif secara seksual.
(Gunung, 2003; Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2010).
Melihat kasus - kasus yang terjadi sangat tinggi pada
kelompok usia produktif maka akan memberikan dampak yang sangat luas pada
penderita yang bukan hanya masalah kesehatan namun juga akan berdampak pada seluruh
aspek kehidupan pada penderita. Diantara dampak tersebut adalah stigmatisasi
dan diskriminalisasi dari orang -orang di sekitarnya. Hal ini akan menyurutkan
niat dari seorang penderita untuk dapat mengakses layanan kesehatan sehingga
memungkinkan seseorang untuk dapat menularkan virusnya kepada orang lain yang
semakin hari semakin bertambah. Ketertutupan dari seorang 4 penderita
bukan hanya berdampak pada diri sendiri namun juga pada keluarga, dan lingkungan
sekitarnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Penderita memandang
bahwa penyakit yang diderita bila diketahui oleh publik maka akan di usir,
dianggap telah melakukan perbuatan asusila, melanggar norma - norma dan aturan -
aturan yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu seorang
penderita akan menutup informasi tentang dirinya secara ketat. Hal ini jelas akan
memperburuk kondisi dari seorang penderita. Upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir
dampak yang muncul dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan
keinginan penderita atau orang yang berisiko tertular untuk melakukan konseling
dan tes HIV, diperlukan akses yang lebih mudah, terjangkau bagi masyarakat luas
serta kerahasiaan terjamin.
Pengertian Konseling, online dan
konseling online.
1.
Konseling
adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah
emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan (WHO, 2004). Suatu dialog antara
seseorang yang bermasalah (klien) dengan orang yang menyediakan pelayanan
konseling ( konselor/perawat/perawat) dengan tujuan untuk memberdayakan klien
agar mampu menghadapi permasalahannya dan sanggup mengambil keputusan yang
mandiri atas permasalahan tersebut.(Gunung, et al, 2003).
2.
Online
adalah Komputer atau perangkat yang terhubung ke jaringan (seperti Internet)
dan siap untuk digunakan (atau digunakan oleh) komputer atau perangkat lain.(Business
Dictionary, 2010)
3.
Online
Konseling adalah konseling melalui internet yang secara umum merujuk pada
profesi yang berkaitan dengan layanan kesehatan mental melalui teknologi komunikasi
internet. (Amani,2007)
Konsep Online
Online konseling mengacu pada kegiatan konseling yang
berbasis hubungan virtual dengan beradasar pada kebutuhan klien yang masih
mempunyai jarak dan masih ragu untuk lebih terbuka kepada orang lain ( Hanley
T.,2006). Walaupun sebenarnya online konseling merupakan hal yang masih langka
di Indonesia namun beberapa negara maju di bidang teknologi telah memanfaatkan
teknologi informasi ini dalam memberikan kemudahan akses bagi masyarakatnya.Di
Indonesia, hanya ada satu layanan yang memberikan konseling dan tes HIV melalui
internet yakni www.mautau.com. Namun layanan ini merupakanlayanan yang diselenggarakan
oleg sebuah LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS.
Pada instansi pemerintah hal ini belum akrab digunakan.Keunggulan
layanan ini adalah memberikan layanan yang mudah dan murah serta kerahasiaan
terjamin dan daya jangkau yang sangat luas di seluruh wilayah yang telah mempunyai
akses internet. Namun disamping keunggulan tersebut, layanan ini jelas memiliki
kelemahan yakni menyulitkan bagi orang - orang yang tidak memahami teknologi komputer dan telepon genggam
berbasis internet dan chatting serta kesulitan dalam memahami emosi yang muncul
dari kedua belah pihak terutama kliennya. diadaptasi dari http://picsdigger.com/domain/houstonzoo.org/
dengan modifikasi. Pada layanan konseling online ini, konselor/perawat harus memiliki komputer atau telepon genggam yang terkoneksi dengan
internet dan mempunyai fasilitas chatting. Langkah - langkahnya :
1.
Klien
menghubungi konselor/perawat melalui koneksi internet melalui fasilitas chatting
dan konselor/perawatmelakukan proses konseling online dengan cara chatting
kepada klien
2.
Setelah
klien merasa telah siap untuk melakukan tes maka klien dapat mengisi form isian
yang dapat diunduh dan ditandatangani kemudian klien mendatangi laboratorium
untuk melakukan tes
3.
Pihak
laboratorium akan memberikan hasil tes kepada konselor melalui fasilitas isian
yang telah disediakan oleh konselor.
4.
Klien
kemudian melakukan proses konseling kembali, apabila yang bersangkutan dinyatakan
negatif dan tidak dalam proses masa periode jendela maka yang bersangkutan bisa
dibacakan hasilnya melalui proses chating namun apabila hasilnya positif maka
klien diharapkan datang ke klinik untuk proses konseling lebih lanjut. Hal ini
dilakukan untuk memberikan rasa aman pada klien atas hasil yang diperolehnya.
5.
Konselor
memberikan konseling lanjutan dan rujukan sesuai dengan kebutuhan klien.Konselor/perawat
Penderita/klien atau orang - orang yang berisiko tertular
HIV adalah mereka yang mempunyai masalah ketakutan akan diskriminasi dan
stigmatisasi dari lingkungannya. Mereka adalah orang-orang yang kemungkinan
juga akan menularkan kepada orang - orang di sekitarnya bila mereka tidak
mengetahui status HIV -nya. Layanan konseling online hanyalaha segelintir
layanan yang dapat diberikan kepada masyarakat luas dalam memberikan kemudahan dan
menghilangkan rasa takutnya terdiskriminasi dan terstigmatisasi sampai mereka
mampu untuk lebih terbuka kepada orang - orang di sekitarnya dan masyarakat
pada umumnya. Kemudahan akses ini pula memungkinkan seorang klien lebih mudah
mendapatkan layanan sesuai dengan kebutuhannya akan permasalahan kesehatan yang
dihadapi serta masalah - masalah lain yang terkait dengnan penyakit yang
dideritanya tersebut.
Layanan ini bukan tidak memiliki kelemahan, namun diharapkan
kelemahan ini dapat diperkecil dengan kemampuan konselor dalam menguasai
teknologi dan juga kemampuan konselingnya sehingga mereka mampu mengambil
langkah - langkah yang tepat dalam meminimalisasi kemungkinan yang akan timbul
akibat proses konseling ini. Layanan konseling online ini diharapkan ada dan
mampu disediakan oleh pemerintah dalam upaya mencapai target sasaran yang lebih
optimal dan meminimalisasi penularan yang semakin hari semakin meningkat.Layanan
konseling online ini diharapkan dapat tersedia di semua layanan Klinik VCT
yang
telah ada di seluruh Indonesia khususnya rumah sakit -rumah sakit
kabupaten
dan beberapa puskesmas di beberapa wilayah yang memiliki risiko tinggi
penularan HIV.
JURNAL
4 :
Konseling Online: Sebuah Pendekatan
Teknologi
Dalam Pelayanan Konseling
Oleh
: Zadrian Ardi Frischa Meivilona Yend
Konseling mengandung nilai - nilai pendidikan dan membawa
tugas untuk memuliakan kemanusiaan manusia. Secara aplikatif, proses konseling
akan membawa seseorang menuju kondisi yang membahagiakan,sejahtera dan berada
pada kondisi efektif dalam kehidupan sehari - hari (Prayitno, 2009: 19).
Kemudian, konseling didesain untuk menolong klien memahami dan menjelaskan
pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk membantu men¬capai tujuan
penentuan diri (self - determinan) mereka melalui pilihan yang telah
diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan
masalah emosional atau karakter interpersonal. (Burks dan Stefflre, dalam John
McLeod, 2008: 5). Perkembangan konseling juga tidak lepas dari pengaruh
perkembangan teknologi. Pada awalnya konseling hanya sebatas pertemuan tatap
muka (face to face) antara Konselor dan Klien, namun saat ini konseling juga
dapat diselenggarakan dengan berbagai media yang memungkinkan hubungan
konseling jarak jauh (Prayitno, 2012: 136). Penghantaran konseling jarak jauh
yang dibantu oleh teknologi terus bertumbuh dan mengalami proses evolusi.
Bantuan teknologi di dalam bentuk penilaian dengan bantuan komputer dan sistem
informasi dengan bantuan komputer telah tersedia dan digunakan secara luas
selama beberapa waktu ini. Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet
untuk meng¬hantarkan informasi dan menyokong komunikasi telah menghasilkan bentuk
-bentuk konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu
teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi
teknologi dan praktiknya.Penggunaan teknologi dalam konseling telah tumbuh
dengan sangat cepat. Apa yang semula hanya janji,kini telah menjadi kenyataan,
dan “teknologi telah memberikan dampak yang kuat pada hampir semua kehidupan, termasuk
pendidikan, bisnis, sains, agama, pemerintahan, pengobatan, dan pertanian”
(Hohenshil, dalam Samuel T Gladding, 2012:28)
Perkembangan konseling juga tidak lepas dari pengaruh
perkembangan teknologi. Pada awalnya konseling hanya sebatas pertemuan tatap
muka (face to face) antara Konselor dan Klien, namun saat ini konseling juga
dapat diselenggarakan dengan berbagai media yang memungkinkan hubungan
konseling jarak jauh (Prayitno, 2012: 136). Penghantaran konseling jarak jauh
yang dibantu oleh teknologi terus bertumbuh dan mengalami proses evolusi.
Bantuan teknologi di dalam bentuk penilaian dengan bantuan komputer dan sistem informasi
dengan bantuan komputer telah tersedia dan digunakan secara luas selama
beberapa waktu ini. Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet untuk
meng¬hantarkan informasi dan menyokong komunikasi telah menghasilkan bentuk - bentuk
konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu
teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi
teknologi dan praktiknya. Penggunaan teknologi dalam konseling telah tumbuh
dengan sangat cepat. Apa yang semula hanya janji, kini telah menjadi kenyataan,
dan “teknologi telah memberikan dampak yang kuat pada hampir semua kehidupan, termasuk
pendidikan, bisnis, sains, agama, pemerintahan, pengobatan, dan pertanian”
(Hohenshil, dalam Samuel T Gladding, 2012:28)
Semula, teknologi digunakan dalam konseling untuk
mempermudah penyimpanan rekaman, mengolah data dan mengolah kata. Kini, factor -faktor
yang mempengaruhi interaksi teknologi - klien semakin mendapat perhatian, khususnya
internet dan telepon (Reese, Conoley, dan Brossart, dalam Samuel T. Gladding,
2012:28) “Jumlah aplikasi komputer berbasis jaringan dalam konseling meningkat
sangat cepat” (Sampson, Kolodinsky, dan Greeno, dalam Samuel T. Gladding,
2012:28). E -mail juga digunakan dalam interaksi konselor - klien. Situs web dikelola
oleh organisasi konseling, program pendidikan konselor, dan konselor individual
(Pachis, Rettman, dan Gotthoffer, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28). Bahkan
terdapat jurnal konseling profesional online. Kondisi perkembangan internet
yang membawa dampak pada pelayanan konseling dibuktikan dengan munculnya lebih
dari 200.000 website penyedia layanan konseling di seluruh dunia, dengan
menyediakan ribuan konselor yang siap membantu individu dengan berbagai
permasalahannya (Pittu Laungani, 2004: 101). Selanjutnya banyak konselor yang
telah mengiklankan layanannya melalui website di seluruh dunia, sehingga klien
yang berasal dari negara dan lokasi manapun dapat mengakses dan mendapatkan
layanan konseling (John McLeod, 2009: 552).
RUANG
LINGKUP KONSELING ONLINE
Proses pelaksanaan konseling online akan berhubungan dengan
semua perangkat pendukung layanan tersebut, apakah itu hardware, software,
ataupun networking infrastructure yang akan memungkinkan konselor dan klien
melakukan hubungan konseling. Beberapa hal yang perlu untuk diketahui oleh
konselor yang akan terlibat dalam hubungan konseling via internet diantaranya;
pertama internet dan web, internet sesuai dengan perkembangannya membawa suatu
kode dan bahasa tersendiri sehingga antara satu komputer dengan computer lain
dapat saling berkomunikasi satu sama lain dengan lancar dan hampir tidak
memiliki permasalahan berkenaan dengan waktu dan jarak tempuh (Hagen Graf,
2008: 8). Terdapat perbedaan mendasar antara internet dan web. Pada dasarnya
internet merupakan kumpulan dari jaringan komputer yang tersebar di seluruh
dunia, dimana semua komputer tersebut dapat saling bertukar informasi dan data
menggunakan communication protocols.Sedangkan web merupakan jutaan dokumen
elektronik yang saling berhubungan sehingga dapat diakses menggunakan Internet
Protocol (Ron Kraus, George Stricker dan Cedric Speyer, 2010: 73-74). Hal kedua
yang perlu diketahui Konselor adalah email dan chat program, email merupakan
salah satu komunikasi standar pada internet, sedangkan text chat sedikit
berbeda dari email sehingga pengguna (Konselor dan Klien) dapat berkomunikasi
dengan keadaan real - time dengan menggunakan internet (Ron Kraus, Jason S. Zack,
George Stricker, 2004: 104 - 106). Selanjutnya Ron Kraus, dkk mengemukakan
videoconferencing merupakan suatu aplikasi yang hampir sama degan text chat,
namun selain mengandung unsur pertukaran informasi melalui text juga terjadi
komunikasi melalui tampilan video masing - masing pengguna secara real - time.Selanjutnya,
hal penting yang harus dipahami konselor adalah pertukaran data dan informasi
klien melalui document sharing and form, sehingga konselor dapat mengetahui
data -
data
umum dari klien maupun data berkenaan dengan permasalahan klien selama proses
konseling berlangsung.
Beberapa
keuntungan yang diperoleh melalui konseling online adalah;
1.
terdapat
rekaman yang permanen selama proses konseling berlangsung, hal ini akan sangat
bermanfaat bagi klien, konselor maupun supervisor konselor,
2.
seni
mengetik akan membantu individu untuk merefleksikan pengalamannya, (3) klien dapat
mengekspresikan perasaannya dalam kondisi “sekarang”, klien dapat segera
mengetik dan mengirimkan email ketika sedang merasa depresi atau mengalami
gejala panik tanpa harus menunggu hingga sesi konseling berikutnya (Murphy and
Mitchell, dalam John McLeod, 2009: 553).
Namun
demikian, permasalahan kode etik dalam pelayanan konseling online perlu
mendapat perhatian lebih lanjut dari petugas lapangan maupun pengembang
pendekatan ini. Berdasarkan hasil survey Shaw and Shaw (dalam John McLeod,
2009: 553) mengenai permasalahan kode etik pelayanan konseling online bahwa
pada tahun 2002 terdapat 88 website konseling, yang hanya 88% diantaranya
mencantumkan nama lengkap konselor dengan 75% konselor yang telah
berkualifikasi, kemudian 49% menggunakan prosedur penilaian dan hanya 27% menggunakan
software pengaman yang telah terenkripsi, hal ini merupakan peringatan bagi
konselor yang bergerak dalam ranah konseling online.
Sumber
: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=66309&val=4796
JURNAL 5 :
Sistem Informasi Manajemen Bimbingan dan Konseling
(SIM-BK)
Sekolah Menengah Atas di Kota Bandung
Oleh : Eka Sakti Yudha
(Universitas Pendidikan Indonesia)
Dewasa ini dunia tengah berada pada era
informasi, hal ini berarti bahwa informasi sudah menyentuh seluruh segi
kehidupan dan penghidupan baik pada tingkat individual, tingkat kelompok, dan
tingkat organisasi. Pada tingkat individu, misalnya aneka ragam informasi yang
dibutuhkan berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, bisnis
dan sebagainya. Penggunaan teknologi informasi melalui sistem informasi bukan
hanya akan meningkatkan kualitas serta kecepatan informasi yang dihasilkan bagi
manajemen akan tetapi dengan teknologi informasi yang tepat, akan menciptakan
suatu sistem informasi yang mampu meningkatkan integritas di bidang informasi
dan operasi diantara berbagai pihak yang ada di suatu organisasi lokal maupun
global.
Sesungguhnya, konsep
sistem informasi telah ada sebelum munculnya komputer. Sebelum pertengahan abad
ke-20, namun
penelitian dan penerapan aplikasi teknologi dalam bidang bimbingan dan
konseling dimulai pada
tahun 1990's (Edwards, Portman dan Bethea, 2002). Sebagian besar penelitian
yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam konseling dapat dikelompokkan
menjadi 3 bidang utama yang digunakan dalam teknologi (1) pencatatan, (2) analisis
data, (3) cybercounseling dan cyberlearning. (Yusof, 2009). Di Indonesia
sendiri penerapan teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling tengah dimulai
sejak tahun 1990-an, namun mulai dipublikasikan mulai tahun 2003.
Menurut hasil
wawancara yang dilakukan terhadap 40 orang guru BK yang bertugas di SMA negeri
Bandung, mengindindikasikan 70% sekolah; lebih spesifiknya menajmen BK (bimbingan dan
konseling) belum menggunakan komputer sebagai alat bantu pemanggilan data siswa
(Yudha, 2007). Dapat
dibayangkan konselor yang bertugas dilapangan sangat disibukkan dengan kendala
administratif yang semestinya dapat terkoordinir dengan baik. Terlebih lagi konselor yang
bertugas di lapangan tidak dibekali dengan kemapuan/softskill
mengoperasikan atau membuat program komputer, untuk mempermudah kinerjanya.
Menurut hasil observasi yang
dilakukan pada konselor SMA negeri di kota Bandung, konselor membutuhkan waktu
hingga 1 minggu ketika membutuhkan informasi tertentu yang berkenaan dengan
siswa (Yudha,
2007), pengelolaan data dan informasi
bimbingan dan konseling yang dilakukan secara manual, jika tidak segera
dibenahi, maka implikasinya akan berimbas pada diri konselor hingga pada
kepuasan pelayanan stakeholders.
Implikasi bagi konselor
diantaranya adalah dengan adanya fenomena burnout di kalangan
guru/konselor (Ilfiandra,
2002), menurut survey yang dilakukan
majalah Tempo bulan April tahun 2000 tentang masalah yang paling berat
dirasakan guru/ konselor diantaranya adalah beban administrasi (Tempo,
2000). Persoalan yang lebih spesifik
adalan temuan Arismunandar (1997) bahwa 21,62% konselor mengalami stres kerja
ringan, 48,11% stres kerja sedang dan 30,27% mengalami stres kerja serius.
Dukungan sistem dalam layanan
bimbingan konseling bertujuan untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan
mutu program layanan bimbingan dan konseling (Eric:1990 dalam Nurihsan,
2003:66). Mutu layanan BK akan berkualitas jika dirancang berdasarkan analisa
kebutuhan stakeholders di lapangan.
Dengan dukungan sistem yang baik analisa kebutuhan tersebut dapat menjadi
informasi yang sangat berguna.
Selanjutnya,
aktivitas manajemen tersebut diarahkan pada pengembangan program, pengembangan
staf, pemanfaatan sumber daya masyarakat, pengembangan dan penataan kebijakan
(Nurihsan, 2003:66). Pengembangan program yang dimaksud adalah penyusunan
program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi riil siswa
di sekolah, pengembangan tersebut sebagai sebuah upaya strategis bagi
peningkatan mutu layanan bimbingan dan konseling.
Pengembangan
sistem informasi manajemen dilakukan melalui beberapa tahap, dimana
masing-masing langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci dari tahap
sebelumnya. Tahap awal dari pengembangan sistem umumnya dimulai dengan
mendeskripsikan kebutuhan pengguna dari sisi pendekatan sistem rencana
stratejik yang bersifat makro, diikuti dengan penjabaran rencana stratejik dan
kebutuhan organisasi jangka menengah dan jangka panjang, lazimnya untuk periode
3 sampai 5 tahun. Masukan (input) utama yang dibutuhkan dalam tahap ini
mencakup: (1) kebutuhan stratejik organisasi; (2) aspek legal pendukung
organisasi; (3) masukan kebutuhan dari pengguna (Sutono:2007).
Pendekatan
pengembangan sistem informasi manajemen yang sederhana, lebih dikenal sebagai
model air terjun (waterfall model). Pekerjaan pengembangan sistem dengan
model air terjun dimulai dengan pembuatan spesifikasi kebutuhan suatu sistem.
Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh orang yang memesan sistem atau pengembang
yang bekerja sama dengan pemesannya. Setelah spesifikasi kebutuhan ini selesai,
lantas dilakukanlah suatu analisis dan deskripsi logika sistem melalui sebuah
penelitian.
Gerakan penelitian
besar-besaran untuk mempelajari dampak teknologi dalam konseling dimulai pada
tahun 1990's (Edwards, Portman dan Bethea, 2002). Sebagian besar penelitian
yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam konseling dapat dikelompokkan
menjadi 3 bidang utama yang digunakan dalam teknologi (1) pencatatan, (2)
analisis data, (3) cybercounseling dan cyberlearning
(Yusof, 2009). Di Indonesia
sendiri penerapan teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling tengah dimulai
sejak tahun 1990-an, namun mulai dipublikasikan mulai tahun 2003.
Penelitian yang dilakukan Bayuargo (2008) tentang
sistem pengolahan data siswa,
sistem informasi baru mampu menghasilkan laporan yang lebih lengkap dan dapat
diakses dengan cepat, efisien dan akurat. Sangat mengurangi tingkat
kesalahan-kesalahan data akibat keteledoran manusia (Human Error).
Sementara dari
penelitian Susetyowati (2009) tentang aplikasi sistem informasi bimbingan dan
konseling yang telah dilakukan pada SMK Muhammadiyah 1 Salam dapat diambil
kesimpulan bahwa sistem lama yang sedang berjalan pada SMK Muhammadiyah 1 Salam
masih manual dan human error yang ditimbulkan oleh sistem lama lebih
banyak jika dibandingkan dengan sistem baru serta biaya yang dikeluarkan pada
sistem lama akan lebih besar dibandingkan dengan sisem yang baru. Sistem baru
dengan basis komputer khususnya dengan aplikasi Visual Basic 6.0 informasi yang
dihasilkan lebih berkualitas dan dapat membantu dalam proses pengambilan
keputusan. karena sistem komputerisasi mempunyai benyak keuntungan terutama
dalam pengolahan data.
Perkembangan teknologi
dan informasi, tentunya tidak bisa terpisahkan dari kompetensi konselor selaku
pengguna. Kompetensi tersebut merupakan kompetensi teknis yang terkait dengan
kemampuan konselor dalam menggunakan berbagai aplikasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang terkait dengan layanan
bimbingan dan konseling.
Informasi yang lengkap,
tepat, waktu cepat, akurat dan jelas sangat membantu pemimpin dalam mengambil
keputusan dan karyawan dapat melakukan suatu langkah yang mendukung manajemen
tanpa harus diperintah secara langsung oleh pimpinan dalam melakukan tindakan
operasional.
Sistem informasi yang
baik dapat membantu kelancaran, kecepatan dan efisiensi mekanisme kerja dari
pengolahan data siswa sehingga informasi dapat diperoleh dengan cepat.
Sistem perangkat lunak
(software) yang kami buat pada SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta sangat
memungkinkan untuk meningkatkan efektifitas kerja, mengurangi
kesalahan-kesalahan dalam pengolahan data siswa, mempercepat proses pencarian
data serta menghemat media penyimpanan data (Indrihastuti, 2008).
SUMBER : file.upi.edu/...BIMBINGAN/.../EKA%20SAKTI%20Y..



0 komentar:
Posting Komentar