Minggu, 27 Maret 2016

PSIKOTERAPI: KONSEP (CARL ROGERS) PERSON CENTERED THERAPY



Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku / Kepribadian
Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.

Konsep Carl Rogers tentang kepribadian
Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
1.      Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2.      Realitas
Untuk tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3.      Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
4.      Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
5.      Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.

6.      Konsep Diri
Istilah – istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7.      Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8.      Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9.      Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.
10.  The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.

Proses Konseling dan terapi
        Konseling yang berpusat pada klien memusatkan pada pengalaman individu. Dalam proses disorganisasi dan reorganisasi diri, konseling berupaya untuk meminimalkan rasa diri terancam dan memaksimalkan serta menopang eksplorasi diri. Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.  Tujuan konseling yang berpusat pada klien ini adalah menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk eksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya dan dapat mengalami aspek dari sebelumnya terganggu. Selain itu membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaan yang lebih besar kepada dirinya, keinginan untuk menjadi pribadi dan meningkatkan spontanitas hidup. Klien dikatakan sudah sembuh apabila:
1.      Kepribadiannya terintegrasi, dan mampu menyelesaikan masalahnya yang dihadapinya atas tanggung jawab diri, memiliki gambaran diri yang serasi dengan pengalaman sendiri
2.      Mempunyai gambaran diri dalama rti memandang fakta yang lama dengan pandangan baru
3.       Mengenal dan menerima diri sendiri sebagaimana adanya dengan   segala kekurangan dan kelebihan
4.      Dapat memilih dan menenukan tujuan hidup atas tanggung jawab sendiri
        Konselor yang efektif dalam konseling yang berpusat pada klien adalah seseorang yang dapat mengembangkan sikap dalam organisasi pribadinya dan dapat menerapkan secara konsisten  dengan teknik konseling yang digunakan. Karakteristik konselor yang efektif adalah:
·         Berupaya untuk memahami apa yang dikatakan klien dalam kaitannya dengan isi dan perasaan dan kemudian mengkomunikasikanpemahaman ini pada klien
·         Menafsirkan apa yang telah dikatakan klien dengan menawarkan sintesis perasaan yang telah dikemukakan
·         Menerima apa yang telah dikatakan klien dengan dengan implikasi bahwa apa yang telah dikatakan itu telah dipahami
·         Setelah isu (masalah) jelas, dapat menetapkan hubungan terapeutik, situasi yang diharapkan, dan batas hubungan konselor klien
·         Berusaha berhubungan klien dengan gesture (isyarat badan), penampilan, ekspresi muka, kata-kata, sehingga klien merasa diterima dan percaya dalam mencapai kecakapan memecahkan masalah
·         Menjawab pertanyaan dan memberi informasi
·         Secara aktif berpartisipasi dalam situasi terapi
        Pada garis besarnya langkah-langkah proses terapi dalam konseling yang berpusat pada klien adalah sebagai berikut:
1.      Individu atas kemauan sendiri datang kepada konselor atau terapis untuk meminta bantuan
2.      Situasi terapeutik ditetapkan atau dimulai sejak situasi permulaan telah didasarkan bahwa bertanggung jawab dalam hal-hal ini adalah klien
3.      Konselor mendorong atau memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan atau mengungkapkan perasaannya secara bebas berkenaan dengan masalah yang dihadapinya
4.      Konselor menerima, mengenal dan memahami perasaan-perasaan negatif yang diungkap klien kemudian meresponnya. Respon konselor harus menujukan atau mengarahkan kepada apa yang ada dibalik ungkapan-ungkapan perasaan itu sehingga menimbulkan suasana klien dapat memahami dan menerima keadaan negatif atau tidak menyenangkan itu tidak diproyeksikan pada orang kain atau disembunyikan sehingga menajdi mekanisme pertahanan diri
5.      Ungkapan-ungkapan perasaan negatif yang meluap-luapkan dari klien itu biasanya disertai ungkapan-ungkapan perasaan positif yang lemah atau samar-samar yang dapat disembuhkan
6.      Konselor menerima dan memahami perasaan-perasaan posiitf ysng diugkapkan klien sebagai mana adanya
7.      Klien memahami dan menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya
8.      Apabila klien telah memahami dan menerima dirinya, maka tahap berikutnya adalah memilih dan menentukan pilihan sikap dan tindakan mana yang akan diambiil. Dalam hal ini konsleor membantu memberikan penjelasan-penjelasan yang berhubungan dengan keputusan pilihan yang diambil klien.
9.      Klien mencoba memanifestasikan atau mengaktualisasikan pilihanya itu dalam sikap dan perilakunya
10.  Langkah selanjutnya adalah perkembangan sikap dan dan tingkah lakunya itu adalah sejalan dengan perkembangan pemahaman dengan dirinya
11.  Perilaku klien makin bertambah terintegrasi dan pilihan-pilihan yang dilakukan makin baik
12.  Klien merasakan kebutuhan akan pertolongan mulai berkurang dan akhirnya ia berkesimpulan bahwa terapi harus diakhiri.
Teknik – Teknik Terapi
Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1.      Empathy
2.      Positive Regard (acceptance)
3.      Congruence

Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
·         Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.
·         Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan.
·         Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.
Sumber :
Murad, J. (2006). Dasar - Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.
Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: C.V. Pustaka Bani Quraisy.

0 komentar: