Minggu, 13 Maret 2016

#Psikoterapi PSIKOANALISIS

Sejarah Perkembangan Psikoanalisi


Pada zaman Yunani Kono(600 SM-600M) muncul Aristoteles sebagai "bapak" dari ilmu Kedokteran modern --> menggunakan metode observasi, pengontrolan dan penyimpulan rasional dari suatu gejala, rekreasi, istirahat, berpantang makan, pemijatan dan latihan fisik. Pada abad-abad pertengahan (600-1500M), pengaruh Hippocrates tenggelam lagi ketika kekuatan-kekuatan berpengaruh lagi. Pada abad ke-18, perhatian terhadap cara meraawt penderita sakit jiwa meningkat. penderita diperlakukan lebih manusiawi, tempat penampungan orang sakit berubah menjadi Rumah Sakit (penanganan lebih baik), pada tahun 1780, Philippe Pinel di Perancis memperkenalkan pendekatan sikap ranah di RS (merupakan pendekatan baru). Pada awal abad ke-19, muncul latihan penguasaan diri sebagai teknik perubahan perilaku, teknik ini berawal dari teknik hukkuman untuk mengubah dan merekonstruksi seseorang agar kembali seperti keadaan sebelumnya, salah seorang psikiater bernama Benyamin Rush menggunakan teknik tersebut untuk merawat penderita penyakit "mania". padahal ia adalah pelopor perubahan pendekatan dengan dasar kemanusiaan pada penderita sakit jiwa. Dorothea Lyde sebagai tokok pembaru lain --> memprotes perlakuan-perlakuan keras dan kejam terhadap penderita sakit jiwa dan menurutnya, mereka juga mempunyai kebutuhan akan kebebasan fisik. pengaruh pendekatan kemanusiaan, diantaranya muncul teknik hipnotis atau sugesti untuk mengubah dorongan2 psikis pada penderita neurotik seperti histeria. pada abad ke-19, teknik hipnotis juga dipakai oleh Jean Martin Charcot (1825-1893) dan Hippolyte Bernheim (1840-1919) yang orientasinya lebih jelas, bahwa gangguan-gangguan kejiwaaan psikologis (yang terdapat di alam bawah sadar). pemahaman tersebut kemudian melahirkan Sigmund Freud (1856-1939) yang melakukan revolusi dalam dunia psikoterapi --> psikoanalisis sebagai teknik psikoterapi, pengaruh Freud begitu lama sampai tahun 60-an dan banyak pusat=pusat yang mempelajari taknik tersebut, permasalahan yang dihadapi klien adalah konflik yang ditekan atau yang ditahan (repressed) di dalam alam tidak sadar --> untuk mencapai kesembuhan, hal-hal yang ditekan atau ditahan dalam alam tidak sadar dikeluarkan  (uncovering, unlocking prosess) untuk diketahui dan kemudian dianalisis dan interprestasi, pada tahun 60-an Psikoanalisis mulai memudar. pada tahun 60-an, berkembang psikologi klinis dan psikologi konseling sebagai reaksi dari perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat setelah perang dunia kedua. muncul Carl Rogers--> konseling tidak langsung (nondirective conseling) dan pendekatan terpusat pada klien (clien centeres approach) yang kemudian menjadi person centered apporoach. pada saat hampir bersamaa, muncul terapi perubahan perilaku (behavioral therapy, behavior modivitation), teknik yang bpserlawanan dengan psikoanalisis. dan pada akhir tahun 50-an dan awal tahun 1960 mulai banyak mendapat sambutan, masalah perilaku dipahami sebagai gejala yang muncul dan dapat bisa diubah (malalui berbagai dasar teori belajar) dan kemudian mempengaruhi keseluruhan kepribadian pribadi yang bersangkutan.

Pengertian Psikoanalisis
Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi

Konsep – konsep utama terapi psikoanalisis
1.      struktur kepribadian
·         id
·         ego
·         super ego
2.      pandangan ttg sifat manusia
·         pandangan freud ttg sifat manusia pd dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan reduksionistik
3.      kesadaran & ketidaksadaran
·         konsep ketaksadaran
Ø  mimpi2 → merupakan representative simbolik dari kebutuhan2, hasrat2  konflik
Ø  salah ucap / lupa → thd nama yg dikenal
Ø  sugesti pascahipnotik
Ø  bahan2 yg berasal dari teknik2 asosiasi bebas
Ø  bahan2 yg berasal dari teknik proyektif
4.      Kecemasan
·         Adalah suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu
Fungsi → memperingatkan adanya ancaman bahaya
·         3 macam kecemasan
Ø  Kecemasan realistis adalah takut kepada bahaya nyata yang ada diluar, misal takut akan bahayanya mengendarai kendaraan tanpa rem.
Ø  Kecemasan neurotic adalah ketakutan akan tidak terkontrolnya insting dan akan mengakibatkan adanya hukuman. Ketakutan ini merupakan ketakutan terhadap hukuman yang akan diterima dari orangtua atau figur penguasa lainnya. Misal, seorang pelajar yang makan diam-diam di kelas karena lapar.
Ø  Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap kata hati. Perasaan bersalah dimana mereka melakukan sesuatu atau berfikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral yang telah ada. Misal, kecemasan mahasiswa yang berusaha memegang teguh nilai-nilai moral dan agamanya, justru dijauhi teman-temannya, padahal di dalam kelompok sosial ia tetap memerlukan teman-temannya.
Ø   
Tujuan terapi Psikoanalisis
·         Membentuk kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri klien
·         Focus pd uapaya mengalami kembali pengalaman masa anak2

Fungsi & peran Terapis
·         Terapis / analis membiarkan dirinya anonym serta hny berbagi sedikit perasaan & pengalaman shg klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis
·         Peran terapis
Ø  Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hub personal dlm menangani kecemasan secara realistis
Ø  Membangun hub kerja dg klien, dg byk mendengar & menafsirkan
Ø  Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan2 klien
Ø  Mendengarkan kesenjangan2 & pertentangan2 pd cerita klien

Pengalaman klien dlm terapi
·         Bersedia melibatkan diri kedalam proses terapi yg intensif & berjangka panjang
·         Mengembangkan hub dg analis / terapis
·         Mengalami krisis treatment
·         Memperoleh pemahamn atas masa lampau klien yg tak disadari
·         Mengembangkan resistensi2 untuk belajar lbh byk ttg diri sendiri
·         Mengembangkan suatu hub transferensi yg tersingkap
·         Memperdalam terapi
·         Menangani resistensi2 & masalah yg terungkap
·         Mengakhiri terapi

Hub terapis & klien
·         Hub dikonseptualkan dalam proses tranferensi yg menjadi inti Terapi Psikoanalisis
·         Transferensi mendorong klien untuk mengalamatkan pd terapis “ urusan yg belum selesai” yg terdapat dalam hub klien dimasa lalu dg org yg berpengaruh
·         Sejumlah perasaan klien timbul dari konflik2 seperti percaya lawan tak percaya, cinta lawan benci
·         Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yg menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan & dendamnya
·         Jika analis mengembangkan pandangan yg tidak selaras yg berasal dari konflik2 sendiri, mk akan terjadi kontra transferensi
Ø  Bentuk kontratransferensi
→ perasaan tdk suka / keterikatan & keterlibatan yg berlebihan
Ø  Kontratransferensi dapat mengganngu kemajuan terapi

Teknik dasar Terapi Psikoanalisis
·         Asosiasi bebas
Asosiasi bebas adalah teknik yang memberi kebebasan pada klien untuk mengatakan apa saja perasaan, pemikiran, dan renungan yang ada dalam pikirannya tanpa ada yang disembunyikan. Melalui teknik ini, klien diharapkan mampu melepaskan emosi yang berkaitan dengan pengalaman traumatik di masa lau yang terpendam (katarsis). Katarsis inilah yang mendorong klien memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif. Tugas terapis disini adalah memahami hal-hal yang di represi dan hanyut ke alam bawah sadar. Selanjutnya terapis akan menafsirkan hal tersebut dan menyampaikannya pada klien. Setelah itu, membimbing ke arah pemahaman dinamika kepribadian yang tidak disadari oleh klien.
·         Penafsiran
Interpretasi merupakan prosedur dasar yang mencakup analisis terhadap asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transferensi. Terapis akan menyampaikan sekaligus memberi pemahaman pada klien mengenai makna dari tingkah laku klien yang dimanifestasikan melalui keempat teknik psikoanalisis tersebut. Tujuan dari penafsiran ini adalah agar mendororng ego klien untuk megasimilasi hal-hal baru dan mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari. Penafsiran harus disampaikan pada saat yang tepat agar dapat diterima klien sebagai bagian dari dirinya. Apabila disampaikan terlalu cepat, kemungkinan klien akan melakukan penolakan, tetapi apabila penafsiran jarang dilakukan, kemungkinan klien akan sulit memperoleh insight atas masalahnya.
·         Analisis Mimpi
Freud menilai mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran karena melalui mimpi, hasrat, kebutuhan dan ketakutan yang di pendam akan mudah diungkapkan. Pada saat klien tidur, pertahanan egonya akan melemah sehingga perasaan yang ditekan akan muncul ke alam sadar. Analisis mimpi memungkinkan terapis untuk mengetahui masalah-masalah yang tidak terselesaikan oleh klien. Pada dasarnya mimpi memiliki 2 taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri dari motif yang disamarkan, tersembunyi dan bersifat simbolik karena terlalu menyakitkan dan mengancam seperti dorongan seksual dan agresif. Sementara itu, isi manifes terdiri dari bentuk mimpi yang tampil dalam impian klien. Tugas terapis disini adalah menyingkap makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol dari isi manifes mimpi, sehingga dapat diketahui isi laten klien. 
·         Analisis dan Penafsiran Resistensi
Resistensi dipandang oleh Freud sebagai pertahanan klien terhadap kecemasan yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan dan perasaan yang direpresinya. Hal ini akan menghambat terapis dan klien memperoleh pemahaman dinamika ketidaksadaran klien. Jika terjadi resistensi, terapis harus membangkitkan perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling terlihat untuk mengurangi kemungkinan klien menolak penafsiran. Resistensi dapat menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan sehingga sebisa mungkin terapis harus dapat memberi pemahaman pada klien agar membuka tabir resistensinya.
·         Analisis & Penafsiran Transferensi
Transferensi merupakan reaksi klien yang melihat terapis sebagai orang yang paling dekat dan penting dalam hidupnya di masa lalu. Sebagian besar terapis akan mengembangkan neurosis transferensi yang dialami klien di lima tahun pertama kehidupannya. Untuk itu terapis harus melakukannya secara netral, objektif, anonim dan pasif. Teknik ini akan mendorong klien menghidupkan kemabali masa lalunya sehingga memberi pemahaman pada klien mengenai pengaruh masa lalunya terhadap kehidupannya saat ini. Melalui transferensi, klien juga mampu menyadari konflik masa lalu yang masih dipertahankannya sampai sekarang. 

Sumber :
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik.   Jakarta: Kencana Prenada Media Group

http://xihuanpsychology.blogspot.com/2013/03/terapi-dengan-pendekatan-psikoanalisa.html (diakses pada 20 april 2015)

0 komentar: