Selasa, 03 April 2012

Indonesia, The New Marlboro Country


“ Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin “.

Sepertinya kita sudah tidak asing lagi dengan sederet kalimat diatas yang seharusnya menjadi  tombak bagi kita. Sederetan kalimat ini mungkin menjadi tontonan sehari – hari. Kita dapat membacanya dimana – mana, kalimat ini seperti segerombolan gangster yang menguasai jalan.  Namun kalimat ini tidak selayaknya gangster yang di takuti banyak orang, mungkin hanya sebuah pengindah dalam bungkus rokok yang kini dijadikan alat berbagai alasan kehidupan. Sederet kalimat tersebut hanya menggambarkan dampak secara fisik yang ditimbulkan dari sepuntung rokok, nyatanya apakah kita tahu ada apa di balik kalimat pengindah itu? sepertinya mereka berusaha mengalihkan fikiran kita untuk melihat bahwa dampak merokok hanyalah dari segi fisik saja tanpa ada makna apa – apa dari sederet kalimat gangster tersebut.
Baliho, spanduk besar bahkan sebuah TV berlayar besar stand by 24 jam siap mewarnai disetiap bibir jalan dengan berbagai gambar indah tentang rokok layaknya foto perkumpulan gangster dan tidak lupa dengan pengindah kalimat itu di tambah penawaran rasa yang beraneka ragam di setiap merknya. Pameran ini bak para seniman meluncurkan berbagai lukisan di museum. Tapi bedanya museum ini tidak dipungut biaya sepeserpun untuk menyaksikan keindahannya, siapa saja dapat manikmati pameran baliho dan layar LCD indah ini.  Tidak hanya di tepi jalan, mungkin kita dapat melihatnya di berbagai warung, café, bahkan tempat – tempat umum lainnya. Sungguh pemandangan ini menggairahkan kita setiap “ pembaca “ untuk mengetahuinya lebih jauh lagi.  Bagaimana tidak, di setiap jalan, mulai dari kota besar yang memang menjadi pusat kegiatan sampai desa terpencil pun sudah disuguhkan iklan besar – besaran seperti yang kita saksikan sekarang ini. Namun sepertinya orang – orang acuh tak acuh melihat fenomena ini, mereka sudah terlena dengan keindahan pameran itu di setiap bibir jalan. Sepertinya sebatang rokok telah berhasil menyihir pemikiran para pecandu untuk tetap mengonsumsinya.
Dari tahun ke tahun dapat diperkirakan para pecandu bertambah jumlah sekitar 40 % dari jumlah pecandunya tahun lalu. Pecandu ini tak kenal umur, mulai dari anak kecil, remaja, orang tua bahkan orang lanjut usiapun termasuk di dalamnya. Sederet kalimat gangster tersebut tak berarti apa – apa, tidak lagi seseram pria berbadan tinggi menggunakan jaket kulit hitam, kacamata hitam dan topi yang menutupi hampir setengah wajahnya bagi anak kecil, yang seharusnya akan lari terbirit – birit jika melihat seorang pria dengan postur seperti itu. Nyatanya kasat mata melihat, kalimat gangster itu merubah seputung rokok yang menyeramkan menjadi sebuah ice cream yang enak, dapat melepas dahaga dan pencair saat suasana panas.
Begitu besar pengaruh media dalam suatu konstruksi. Media telah menciptakan keindahan yang mengalahkan keseraman dari gangster itu disetiap bungkusnya.  Tak hanya menguasai jalan, iklan rokok pun telah meramaikan program televisi atau siaran radio dengan menghadirkan berbagai macam iklan yang serupa dengan spanduk di jalan, terlebih lagi mereka menyuguhkan iklan mereka dengan mengaitkan berbagai  gaya hidup seorang. Sama halnya dengan baliho ataupun layar di tepi jalan, iklan yang ditampilkan dapat kita saksikan 24 jam dengan mudah hanya dengan memencet tombol On yang berada di layar Tv. Iklan ini seperti video dengan durasi terbatas dengan penuh makna tersirat. Alhasil, iklan ini berhasil membuat sebuah status sosial dalam masyarakat. Masyarakat mulai terkonstruk bahwa sebuah merk rokok menghadirkan status sosial yang berbeda dengan merk rokok lainnya.  Misalnya saja, L.A dengan slogan “ Enjoy aja “ dan A-mild dengan slogan “ MILD, GO AHEAD “ telah mengkonstruk bahwa mereka yang merokok dengan L.A atau A-mild adalah anak muda gaul, musisi dan anak kreatif. Hal ini di perkuat dengan salah satu programnya yang kebanyakan menjadi sponsor konser musik, dan acara – acara anak muda lainnya, para perusahaan rokok dengan senang hati melakukannya. Berbeda dengan  "My Life My Adventure DJARUM SUPER" (Djarum Super) yang dalam iklannya menggambar bahwa mereka adalah pria berpetualang menggambarkan bahwa pria yang merokok dengan Djarum super adalah pria yang tangguh dan suka berpetualang. Dan masih banyak lagi slogan yang membuat banyak orang berasumsi suatu merk rokok adalah suatu identitas diri, sehingga timbullah anggapan ” kalau bukan merk itu ya gak gua banget “.
Agaknya para penguasa berhasil menciptakan mythos akan kekuatan “ ajaib “ dari rokok. Seperti yang di ungkapkan Karl Marx dalam soal komoditas, yang menjelaskan bagaimana suatu produk di katakan berguna apabila seseorang membelinya. Produk tidak ditimbang dari nilai guna tapi bagaimana produk itu mampuan menyihir konsumen. Dan pada kenyataannya para konsumen sudah termakan oleh iklan yang sebenarnya adalah sebuah manipulasi dan mythos yang sudah di konstruk sedemikian rupa oleh para penguasa. Penguasa merelakan mengeluarkan dana lebih untuk fasilitas media besar – besaran. Tapi mungkin hanya sebagan kecil dari laba yang diterima. Melihat dari data laba yang di peroleh dari perusahaan Gudang Garam dan HM Sampoerna yang lumayan tinggi. Tahun 2005 laba bersih Gudang Garam Rp 1,88 truliun dan HM Sampoerna mencetak laba Rp 2, 38 triliyun dan terus meningkat di setiap tahunnya. Dari data tersebut tidak pantas kita membandingkan dana untuk iklan dengan laba yang didapatkan dari hasil penjualan rokok tersebut. Yang lebih mirisnya lagi dari laba yang sebesar itu hanya 2 % yang dikeluarkan untuk beasiswa, namun pasti kita tergiur akan besarnya beasiswa yang di keluarkan lumayan besar, dalam hal satu ini penguasa terlihat seperti pahlawan bertopeng dalam film sinchan yang siap membantu semua orang dari keadaan sulitnya. Terlihat bagaimana perusahaan rokok menguasai dunia bisnis negara ini. Negara seperti patung selamat datang, terdiam. Negara hanya memberlakukan pajak 30 % dari laba yang didapatkan. Kemana 78 %nya? Kembali ke kantung mereka untuk memfasilitasi kehidupan para penguasa, siapa yang dirugikan? Para buruh yang sudah dipekerjakan mati – matian, yang juga merupakan pecandu rokok. Dengan kata lain, pecandu adalah budak mereka. Data riset mengatakan belanja tembakau dan sirih pada keluarga miskin adalah 7,6% dari total pengeluaran. Sementara itu mereka hanya mengalokasikan 2,6% untuk pendidikan dan 1,9% untuk kesehatan ( Data BPS periode 1996 – 2003 ). Para penguasa berlomba mencari mangsa untuk setiap batang rokok, siapa lagi korbannya jika bukan para pecandu dan anak – anak muda yang sedang berkembang. Mulut mereka seperti kantung uang yang harus di “ terkam “ oleh para pemilik modal. Para penguasa berbondong – bondong memikirkan bagaimana para konsumen harus terus mencicipi sebatang rokok ini. Para penjual rokok pun di bekali keahlian untuk menjual tiap batang rokoknya dan belum lagi penawaran hadiah di setiap pembeliannya.
Philip Morris adalah salah satu penguasa dalam pemasaran rokok. Marlboro yang merupakan perusahaan rokok terbesar di penjuru dunia adalah salah satu miliknya yang sejak tahun 1760 tembakau ditemukan mengalami peningkatan begitu besar, iklan tentang Marlboro berada di berbagai tempat, dan selalu menjadi sponsor berbagai acara. Berbagai orang dengan profesi yang berbeda – beda mengkonsumsinya, dari kaum bawah sampai atas bahkan pria dan wanita pun tak ada bedanya. Adanya fenomena ini menjadikan Amerika dikenal sebagai “ Marlboro Country “. Sebab harga rokok terjangkau oleh kantung, bagaimana tidak? Sebab mereka memasok harga sama dengan sebungkus permen. Jadi mudahlah untuk mencicipi seputung rokok yang konon adalah sumber kenikmatan. Namun pada tahun 1990 New York mengalami kenaikan jumlah penduduk yang amat pesat, Morris berjanji untuk berhenti menargetkan pemasaran di kalangan anak muda dan memensiunkan ikon Marlboro Man yang sangat “ mode in “ waktu itu. Hal ini menyebabkan, pendapatan Marlboro berkurang di tambah dengan ketetapan pemerintah yang memberlakukan pajak shin untuk rokok yang tinggi pada pertengahan tahun 2010. New York tidak lagi menjadi “ Marlboro Country “, tidak ada lagi iklan rokok yang menghiasi kota mereka dan Amerika merupakan Negara termahal yang menjual rokok dengan kisaran 12 $ setiap bungkus rokoknya.
Morris, sang ketua gangster tak pernah kehabisan akal dengan kemunduran Negara – Negara barat akan tingkat konsumen rokok. Morris terus berburu mencari mangsa baru sampai ke penjuru dunia. Pada abad ini diperkirakan rokok akan membunuh 1 milyar dan kematian ini akan terjadi 80 % di Negara Berkembang. Indonesia adalah salah satu Negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk yang lumayan padat, ini artinya Indonesia menjadi surga bagi Philip Morris. Dengan kekuatan medianya berhasil meciptakan masalah kesehatan global di negri ini. Dengan harga yang murah, siapa saja dapat menjajali mulut mereka dengan rokok. Tak tanggung – tanggung Morris membeli Sampoerna yang merupakan perusahaan terbesar di Indonesia pada tahun 2005 dengan pengahasilan 200 juta $ tiap tahunnya di Indonesia. Memang kita sebagai orang awam mengira perusahaan rokok telah banyak membantu para buruh dan petani tembakau, tapi dibalik semua ini lagi – lagi ada kisah yang tak terungkap. Kita seperti berada pada zaman penjajahan Belanda. perusahaan rokok ini seperti Deandless modern abad ini. Perusahaan ini mempekerjakan 600.000 petani, dengan upah yang minim namun para buruh harus terus mengemas tembakau menjadi rokok dengan cepat menyamai jarum detik berjalan. Dua kebohongan yang paling mencelakakan dunia bisnis perusahaan rokok adalah rokok tidak menyebabkan penyakit dan tidak memasarkan pada anak kecil. Tapi nyatanya yang terlihat di Negri ini perusahaan rokok tidak perduli akan itu, begitu pula dengan pemerintah yang memilih untuk diam melihat fenomena di Negrinya. Dan Morris berhasil menjadikan Indonesia sebagai “ The New Marlboro Country “.
Para penguasa seperti Morris tak pernah putus asa untuk terus mencari mangsa baru. Dalam 5 tahun ini Morris menargetkan dan membuka peta perjalannya, bahwa tidak hanya Indonesia tetapi ada Negara lain yang akan di jadikan The Next Marlboro Country, yaitu Afrika Selatan, Mexico, Colombia dan Pakistan. Morris akan membawa produk yang sama, dan tipuan yang sama membawanya keseluruh penjuru dunia. Dan Morrispun tertawa licik melihat kita semakin terpukau akan keindahan kelompok gangsternya menjelajahi dunia.

0 komentar: