Selasa, 12 November 2013

Ketika Hujan Datang

Sore ini hujan turun. Deras. Angin bertiup kencang mengisaratkan hujan akan turun semakin deras. Aku tolehkan wajahku ke arah jendela yang penuh dengan tetesan air, gelap. Terlihat segerombolan orang menepi, menyelamatkan dirinya dari derasan air hujan yang menguyur kota ini. Tertawa kecil sempat terdengar, senda gurau mereka menghibur diri.
Aku teringat sebuah kata - kata yang terucap dari sahabatku dulu, sekarang kami terbatas oleh tempat dan mungkin persoalan pelik. Wanita periang itu berkata " aku senang hujan turun, karena tidak satu orangpun yang mengetahui kita meneteskan air mata dan itu rasanya amat sangat lega ".
Aku terdiam mengingat semuanya.
Hujan turun amat sangat cepat, begitupun suara geluduk yang selalu setia menemani datangnya hujan. Menggelegar.
Aku rindu.
Hari ini entah mengapa aku rindu mereka, rindu berada disana. Aku berlari menyelusuri hujan, aku berlari, sekujur tubuhku basah, muka ku tak kalah " lepek " nya dengan bajuku. Tapi air ini beda bukan air hujan, melainkan air mata. Oh Tuhan, air mata apa ini ? aku sudah berjanji untuk memulainya dengan cerita manis. Aku terus berlari, sampai aku berada di depan gerbang rumah minimalis yang aku tempati saat ini. Aku buka kamarku, maafkan aku Tuhan. Aku mengeluh, aku sangat merindukan masa - masaku disana.
Aku lihat ke jendela samping kamarku, hujan itu masih ada. sendiri. Tidak ada lagi lawan aku berdiskusi, tidak ada lagi lawan aku menulis.
Menulis ? aku teringat sesuatu.
Segera aku buka laptopku, aku buka tempat biasa kami mengadu kemahiran kami. Kali ini beda, jariku terasa kaku, otakku buntu, hatiku asing. Aku ingin menulis satu katapun tidak sanggup.
Sungguh aku rindu kalian.

0 komentar: